Kisah Pilu Sopir Truk Sampah Jaksel, Kerja Lembur Berujung Meninggal Kelelahan

2026-01-12 14:30:22
Kisah Pilu Sopir Truk Sampah Jaksel, Kerja Lembur Berujung Meninggal Kelelahan
JAKARTA,  - Yudi (51), seorang sopir truk yang mengangkut sampah dari Jagakarsa, Jakarta Selatan, ke TPST Bantargebang, Bekasi, meninggal dunia usai bekerja lembur selama berhari-hari, Jumat .Rekan sesama sopir truk sampah, Fauzan, menyebut Yudi meninggal karena akumulasi lelah yang dia alami selama kurang lebih tiga hari, setelah bekerja melewati waktu.“Jadi itu dia akumulasi kelelahan karena waktu kerjanya bisa lebih dari yang dikontrakkan delapan jam,” kata Fauzan kepada Kompas.com di Jakarta Selatan, Minggu .Setiap harinya, Yudi menghabiskan waktu hingga delapan jam hanya untuk mengantre dan membuang sampah-sampah dari truknya di TPST Bantargebang.Baca juga: Kerja Lembur Berhari-hari, Sopir Truk Sampah Jaksel Meninggal DuniaSejak pagi buta, Yudi biasa berangkat dari rumahnya di Lubang Buaya, Jakarta Timur, ke pool truk sampah Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan.Umumnya, para sopir truk ini tak sempat sarapan dulu dari rumah karena berangkat saat orang rumah masih terlelap.Ia kemudian mulai menjemput sampah dari berbagai titik penjemputan di Jagakarsa pukul 05.00 WIB, dan baru selesai sekitar pukul 10.00 WIB.Yudi langsung bertolak ke TPST Bantargebang yang biasanya memakan waktu selama satu jam dari Jagakarsa.Di sana, ia bergabung dengan deretan truk sampah lainnya, mengantre untuk menyetorkan sampah yang diangkut.Struk pembongkaran muat sampah yang diterima Yudi menunjukkan, ia keluar dari TPST Bantargebang pukul 19.24 WIB.“Dari sini ke Bantargebang itu kira-kira satu jam. Sampai sana 11.24 WIB, baru keluar jam 19.04 WIB, kurang lebih delapan jam,” jelas Fauzan.Baca juga: Sopir Truk Sampah Terjebak Antrean 6 Jam di TPST Bantargebang Setiap HariBerpikir lelahnya dan perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai rumahnya, Yudi memilih melipir ke pom bensin yang menyediakan bahan bakar khusus untuk truk sampah.Setelah mengisi bensin, Yudi kemudian duduk di warung nasi seberangnya. “Asal beli kopi atau rokok, kan sama tukang warung dipersilakan duduk. Tapi istirahatnya kurang layak,” tutur Fauzan.Hanya berselang satu jam sebelum Yudi berangkat kerja lagi, ia kejang-kejang di lantai warung nasi.


(prf/ega)