"Sebenarnya sih boleh-boleh saja kalau memang mau konsumsi makanannya di dalam kamar, boleh," kata Chef Aldi saat ditemui Kompas.com di sela Media Trip Archipelago-Hotel Neo Kota Baru Parahyangan, Selasa .Artinya, tamu yang menginap di hotel sah-sah saja bersantap di restoran luar hotel atau membawa makanan dari luar ke dalam kamar hotel.Namun, hal ini tidak selalu berlaku bagi tamu yang menggunakan ruang rapat di hotel dan membeli makan dari luar.Baca juga: Resep Nasi Kabsah Khas Arab Saudi ala Hotel Bintang 5 Pullman Zamzam Makkah"Kalau ada event, mau bawa makan ramai-ramai di meeting room, biasanya kami beri surat pernyataan bahwa makanan tersebut bukan dari hotel," kata Chef Aldi.Cara ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terkait makanan, terutama bila makanan tersebur dikonsumsi di dalam area hotel.Baca juga: Hotel di Nusa Dua Bali Ini Raih 4 Penghargaan Kuliner Bergengsi Asia PasifikDengan adanya surat pernyataan tersebut, pihak hotel dapat menegaskan bahwa makanan yang dibawa dari luar bukan lagi menjadi tanggung jawab hotel.Chef Aldi mengatakan, aturan ini bisa jadi berbeda, tergantung aturan hotel masing-masing.Kamu bisa bertanya terlebih dulu kepada pihak hotel sebelum membeli dan membawa makanan dari luar untuk memastikannya.Baca juga: Cara Masak Kikil Empuk dan Tak Amis, Ini Trik dari Chef Hotel

2026-02-05 05:18:59



(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 04:02