Melihat Uniknya Suku Korowai yang Dijuluki Manusia Pohon, Takut Sama Serangan “Iblis” (2)

2026-01-12 03:09:51
Melihat Uniknya Suku Korowai yang Dijuluki Manusia Pohon, Takut Sama Serangan “Iblis” (2)
JAYAPURA, - Peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hari Suroto, mengungkapkan bahwa rumah-rumah di pemukiman Suku Korowai saat ini dibangun hanya sekitar dua meter dari permukaan tanah, yang membuatnya mudah dijangkau nyamuk.Suroto menjelaskan, alasan utama untuk membangun hunian yang tinggi adalah karena suku Korowai memiliki ketakutan akan serangan laleo, yang mereka anggap sebagai iblis kejam."Laleo atau iblis seperti zombi ini hidup di sebuah dunia yang serupa dengan manusia tetapi dengan hal-hal yang bertentangan dengan dunia manusia," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu .Menurut Suroto, dalam pandangan Suku Korowai, setan-setan melihat malam sebagai siang hari.Mereka mengambil cacing tanah sebagai ulat sagu, dan keladi sebagai merpati.Baca juga: Melihat Uniknya Suku Korowai di Wilayah Papua Selatan yang Dijuluki Manusia Pohon (1)"Ketika manusia tunduk kepada banjir, di dunia yang tak kasat mata ini, mereka mengalami kekeringan," katanya.Suroto menambahkan, ketika seorang manusia meninggal, mayatnya dilahirkan kembali sebagai bayi di dunia lain yang tidak terlihat oleh manusia."Pada saat orang mati itu bertumbuh dan kemudian meninggal di dunia lain, dia mengalami reinkarnasi di dunia nyata, melupakan segala hal yang dialami dalam dunia orang mati," sambungnya.Reinkarnasi bagi Suku Korowai sering kali berasal dari kakek nenek.Seorang dukun atau perantara roh dapat menentukan identitas sebelumnya dari bayi manusia yang baru lahir.Namun, ketika bayi tersebut dewasa, identitas sebelumnya tidak boleh diungkapkan kepada individu yang mengalami reinkarnasi itu."Orang yang telah meninggal masih ingat akan kehidupan mereka sebagai manusia, merindukan kerabat manusia mereka dan sangat ingin untuk bersatu kembali dengan mereka," tuturnya.Namun, Suroto menjelaskan bahwa hal ini mustahil, karena setan-setan tersebut menjadi jahat terhadap manusia.Baca juga: Mengenal Suku Korowai, Penghuni Rumah Pohon di Pedalaman Papua"Kadangkala, setan-setan ini meninggalkan makanan untuk kerabat mereka yang masih hidup, dan jika manusia memakannya, maka mereka akan meninggal," jelasnya.Suroto juga menyoroti bahwa festival ulat sagu merupakan ritual skala besar yang paling penting bagi Suku Korowai, yang berfokus pada kesuburan dan kemakmuran.


(prf/ega)

Berita Terpopuler