Di Sekolah Langganan Banjir, Tri Sugiyono Basuh Mental Siswa dengan "Seberkas" dan Antar Prestasi...

2026-01-12 06:55:24
Di Sekolah Langganan Banjir, Tri Sugiyono Basuh Mental Siswa dengan
- Lokasinya berada di kawasan pesisir Kota Semarang, tepatnya di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari.Setiap tahun, SD Negeri Tambakrejo 01 hampir tak pernah luput dari ancaman banjir yang mengganggu aktivitas belajar.Genangan air bahkan bukan satu-satunya tantangan. Lingkungan sosial sekitar sekolah dikenal heterogen dan cukup keras, membuat anak-anak terbiasa hidup dalam tekanan dan situasi yang tidak selalu ramah.Di tengah kondisi itu, muncul tekad besar dari Tri Sugiyono untuk membuktikan satu hal, bahwa kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh lokasi sebuah sekolah berdiri.Ia ingin menunjukkan bahwa mutu belajar dapat tumbuh dari komitmen, kolaborasi, dan kepemimpinan yang berpihak pada murid.Sejak mengemban tugas sebagai kepala sekolah pada September 2021, ia menyadari betul bahwa masalah utama yang dihadapi sekolah jauh lebih kompleks daripada sekadar ruang kelas yang terendam air.Ia melihat rendahnya rasa percaya diri siswa, minimnya sarana pendukung, hingga capaian literasi dan numerasi yang berada di titik mengkhawatirkan.“Saya lihat waktu itu prestasi minim, pembelajarannya juga kurang,” kenangnya saat ditemui Kompas.com, Senin .Baca juga: PIP 2025 Tahap 3 Cair: Syarat Penerima, Besaran Bantuan, dan Cara Daftar Lewat Sekolahdokumentasi SD Negeri Tambakrejo 01 Dokumentasi banjir pada Maret 2024. SD Negeri Tambakrejo 01 sekolah di pesisir Kota Semarang dan menjadi langganan banjir membuktikan literasi dan numerasi bisa tumbuh di tengah genangan.Setiap tahun, SD Negeri Tambakrejo 01 nyaris tak pernah lepas dari genangan.Buku-buku kerap rusak tersapu air, sebagian kelas terpaksa dipindah, dan proses belajar harus tetap berjalan dengan segala keterbatasan.Namun bagi Tri, tantangan tersebut justru menempa karakter sekolah.Di musim hujan, sepatu dan pakaian siswa mungkin basah, tetapi mereka tetap datang dengan wajah ceria.“Yang paling menentukan itu harapan anak-anak. Walaupun banjir dan rumahnya tergenang, mereka tetap berangkat dengan wajah ceria,” ujarnya.Lingkungan sosial Tambakrejo pun tidak sederhana. Kawasan ini beberapa kali diberitakan karena kasus tawuran remaja.Sekolah pun memilih menjadi antitesisnya. SD Negeri Tambakrejo 01 berupaya jadi tempat yang aman, damai, dan bebas intimidasi terutama bagi anak-anak. Upaya tersebut berbuah hasil. Pada 2024, SDN Tambakrejo 01 meraih Juara 2 Sekolah Ramah Anak Kota Semarang, mengungguli sekolah-sekolah besar dengan fasilitas lebih lengkap.“Kami ingin membuktikan bahwa sekolah ramah anak tidak bergantung pada dana besar, tapi pada komitmen,” tegas Tri.Baca juga: Daftar Libur Desember 2025: Tanggal Merah dan Jadwal Libur Sekolah 38 ProvinsiKetika Tri pertama datang, banyak siswa tumbuh dengan rasa minder. Mengikuti lomba saja mereka takut, apalagi bersaing dengan sekolah-sekolah besar.“Sebelum berjuang, mereka sudah takut dulu,” ujarnya.Untuk mematahkan ketakutan itu, lahirlah Seberkas (Selasa Berkreasi Bakat Siswa).Setiap Selasa pagi, tiap kelas bergantian menampilkan talenta siwas, mulai dari menari, membaca puisi, bercerita, hingga unjuk karya.Program kokurikuler ini memberi ruang ekspresi bagi anak-anak.Hasilnya nyata, tim tari SDN Tambakrejo 01 termasuk pernah meraih Juara 1 tingkat kecamatan dan peringkat 3 tingkat Kota Semarang pada 2022.Banyak siswa yang tadinya pemalu kini akhirnya berani tampil dan mengikuti lomba secara sukarela.“Alhamdulillah, anak-anak semakin berani tampil,” kata Tri.Baca juga: Kalender Desember 2025 Lengkap: Tanggal Merah dan Jadwal Libur Sekolah per Provinsidokumentasi SD Negeri Tambakrejo 01 Membangun budaya literasi dan numerasi di SD Negeri Tambakrejo 01 Kota Semarang Pada tahun pertama Tri menjabat, hasil Asesmen Nasional terhadap SDN Tambakrejo 01 menunjukkan skor numerasi hanya 26,63 (merah) dan literasi 50 (kuning).Angka tersebut jauh di bawah kategori hijau yang mensyaratkan skor 70 ke atas.Selain pendampingan guru, tantangan besar lainnya adalah ketiadaan buku bacaan.Tidak ada perusahaan yang bisa diajak bekerja sama, tidak ada donasi yang tersedia.Maka sekolah memulai dari yang kecil dengan membuat lorong baca dan sudut baca di kelas melalui lomba “Kelas sebagai Rumah Kedua”.Sayangnya, banjir besar 2022–2023 kembali menghapus ratusan buku yang sudah susah payah dikumpulkan. Namun dari krisis itu, lahir inovasi baru berupa digitalisasi buku bacaan. “Kami harus menyelamatkan buku-buku itu,” ujar Tri.Baca juga: Persiapan 2026, Daftar Sekolah Kedinasan Sepi Peminat dan Gajinyadokumentasi SD Negeri Tambakrejo 01 Inovasi pembelajaran sekolah di SD Negeri Tambakrejo 01 Sudut Baca Digital Satu siswa satu buku digital yang diciptakan dari karya sendiriPada 2022, SD Tambakrejo 01 membuat loncatan tak biasa. Setiap siswa wajib membuat satu buku digital.Mereka menggambar, menulis cerita, lalu memindai hasilnya ke dalam PDF untuk disimpan di “Sudut Baca Digital” di setiap kelas.Lebih dari 200 buku digital lahir dari kreativitas anak-anak yang sehari-hari berjuang melawan banjir.Membaca karya teman sendiri membuat minat literasi meningkat tajam. Anak-anak bangga ketika karyanya dibaca dan terdorong untuk membuat buku baru.“Bisa membuat buku itu luar biasa bagi mereka. Kreativitasnya muncul,” kata Tri.Setiap tahun, sekolah memilih tiga buku digital terbaik sebagai bentuk apresiasi agar siswa merasa lebih dihargai.Baca juga: Psikolog Ungkap Faktor Penyebab Bullying di SekolahTransformasi ini berdampak besar. Pada 2025, skor numerasi dan literasi SD Tambakrejo 01 melonjak drastis:


(prf/ega)