Harga Perak Cetak Rekor Baru, Analis Nilai Potensi Kenaikan Belum Selesai

2026-01-12 04:02:04
Harga Perak Cetak Rekor Baru, Analis Nilai Potensi Kenaikan Belum Selesai
-Harga perak kembali mencetak rekor baru dan para analis menilai tren penguatannya belum selesai.Harga naik di tengah pasokan yang makin ketat dan permintaan yang melonjak, terutama dari India serta sektor industri.Pergerakan ini sejalan dengan reli emas yang sempat melampaui USD 4.000 per ons atau sekitar Rp66,5 juta per ons.Pada pertengahan Oktober, harga perak menyentuh USD 54,47 per troy ons atau sekitar Rp907.000. Angkanya naik 71 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.Baca juga: Investasi Perak, Apakah Lebih Baik Dibandingkan Emas? Harga sempat terkoreksi, lalu kembali naik akibat pasokan yang menipis.“Beberapa orang terpaksa mengangkut perak dengan pesawat daripada kapal kargo untuk memenuhi permintaan pengiriman,” ujar Paul Syms, Kepala Pendapatan Tetap ETF EMEA dan manajemen produk komoditas di Invesco, dilansir CNBC, Minggu .“Dalam jangka panjang, ada dinamika berbeda kali ini yang dapat mempertahankan harga perak pada level yang cukup tinggi dan mungkin terus naik untuk beberapa waktu mendatang,” sambungnya.Ini menjadi kali ketiga perak menyentuh level rekor dalam 50 tahun. Lonjakan pertama terjadi pada 1980 saat Hunt bersaudara menguasai sepertiga pasokan dunia.Lonjakan kedua pada 2011 ketika logam mulia menjadi aset pelarian di tengah krisis plafon utang AS.Baca juga: Tren Kenaikan Harga Perak Diproyeksikan Masih Bakal Berlanjut Tiga Tahun LagiSyms menjelaskan pasar perak jauh lebih kecil dibanding emas.“Perak hanya sekitar sepersepuluh ukuran pasar emas, dan short squeeze itu, tentu saja, cukup mengejutkan beberapa investor,” sebutnya.Kenaikan tahun ini muncul dari kombinasi permintaan tinggi dan pasokan yang menyusut. Normalnya, emas naik setelah Hari Pembebasan.Namun kali ini perak terkoreksi, membuat rasio emas–perak menembus angka 100. Angka itu sering membuka ruang kenaikan karena perak dinilai terlalu murah.Permintaan terbesar datang dari India. Musim hujan selesai, panen tuntas, dan perayaan Diwali mendorong pembelian perak.“Para petani tidak terlalu menyukai bank, jadi emas, dan belakangan, perak, cenderung menjadi pilihan pertama mereka setelah panen,” kata Rhona O’Connell, Kepala Analisis Pasar EMEA dan Asia di Stone X.


(prf/ega)