AS Rencana Bagi Gaza Jadi Zona Hijau-Merah di Bawah Kendali Israel dan Internasional

2026-01-11 21:58:19
AS Rencana Bagi Gaza Jadi Zona Hijau-Merah di Bawah Kendali Israel dan Internasional
GAZA, – Amerika Serikat (AS) merancang pembagian wilayah Gaza dalam jangka panjang menjadi dua area, yakni “zona hijau” yang berada di bawah kendali militer Israel dan kekuatan internasional untuk memulai rekonstruksi, serta “zona merah” yang akan dibiarkan tetap hancur.Rencana tersebut tertuang dalam dokumen perencanaan militer AS yang dilihat The Guardian dan diperkuat oleh sumber yang mengetahui skema itu.Tahap awalnya, pasukan asing bakal dikerahkan bersama militer Israel di bagian timur Gaza, sehingga wilayah yang luluh lantak itu terbelah oleh “garis kuning” yang saat ini dikuasai Israel.Baca juga: Gaza Dilanda Hujan Lebat, Warga Palestina Minim Tempat Berlindung dan Bantuan Terbatas“Idealnya Anda ingin menyatukan semuanya, bukan? Tapi itu aspiratif. Ini akan memakan waktu. Ini tidak akan mudah,” ujar seorang pejabat AS yang meminta identitasnya dirahasiakan.Rencana ini memunculkan pertanyaan terkait komitmen Washington mendorong gencatan senjata yang diumumkan bulan lalu menjadi kesepakatan politik jangka panjang. Kesepakatan tersebut sebelumnya dijanjikan Donald Trump dengan pemerintahan Palestina di Gaza.Rencana untuk masa depan Gaza berubah sangat cepat. Perubahan ini mencerminkan langkah yang dinilai masih sporadis dalam menangani konflik yang kompleks, sekaligus memenuhi kebutuhan dua juta warga Palestina, termasuk makanan dan tempat tinggal.Salah satu gagasan yang kini dibatalkan adalah pembangunan kamp-kamp berpagar untuk kelompok kecil warga Palestina, yang disebut alternative safe communities (ASC).“Itu adalah cuplikan dari sebuah konsep yang diajukan pada waktu tertentu. Mereka sudah beralih dari itu,” kata pejabat AS tersebut.Organisasi kemanusiaan mengaku belum mendapat pemberitahuan mengenai perubahan rencana tersebut.Baca juga: RS Nasser Gaza Terima 15 Jenazah Palestina dalam Kesepakatan Gencatan SenjataTanpa rencana yang jelas soal pasukan penjaga perdamaian internasional, penarikan militer Israel, dan rekonstruksi besar-besaran, Gaza berpotensi terjerumus dalam fase “bukan perang, bukan perdamaian”.Kondisi ini diperingatkan para mediator, menyusul dua tahun konflik yang menyebabkan kehancuran luas, serangan Israel yang berulang, absennya pemerintahan Palestina, serta terhambatnya pembangunan kembali permukiman.Pembentukan pasukan stabilisasi internasional atau International Stabilisation Force (ISF) masuk dalam rencana perdamaian 20 poin Trump.AS berharap rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk memberi mandat resmi kepada pasukan tersebut dapat disahkan pekan depan.“Langkah pertama adalah kita harus mendapatkan resolusi itu. Negara-negara tidak akan membuat komitmen tegas sampai mereka benar-benar melihat isi resolusi yang telah disahkan,” ujar pejabat AS itu.Trump juga menegaskan bahwa ia tidak berniat mengerahkan pasukan AS ataupun membiayai rekonstruksi Gaza.


(prf/ega)