Bertaruh Nyawa demi Beras, Kisah Nelayan Perempuan di Pesisir Makassar...

2026-01-11 23:48:55
Bertaruh Nyawa demi Beras, Kisah Nelayan Perempuan di Pesisir Makassar...
MAKASSAR, - Hasnah (40), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di pesisir Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, menggantungkan hidupnya dari hasil melaut mencari kerang.Setiap hari, Hasnah harus berangkat ke tengah laut menggunakan perahu kecil bersama suaminya. Ia bahkan kerap membawa anak bungsunya saat melaut demi bisa membantu perekonomian keluarga.“Sudah puluhan tahun, hidup saya seperti ini,” kata Hasnah saat ditemui di rumahnya, Sabtu .Untuk mencari kerang, Hasnah dan suami menyeberangi laut menggunakan perahu kecil yang hanya bisa memuat tiga hingga empat orang.Baca juga: Bertahan Tanpa Support System, Ini Cara Rosita Menguatkan Diri sebagai Ibu Tunggal“Kalau cari keran di tengah laut, menyeberangi laut naik kapal,” ujar Hasnah.Hasnah mengungkapkan, mereka kerap melaut pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WITA dan baru kembali pada pukul 17.00 WITA. Namun, pada saat air laut surut, ia justru melaut pada malam hari.“Tidak tidur, merendam terus di air,” ungkapnya.Dalam sehari, mereka bisa mendapatkan sekitar dua keranjang kerang yang kemudian dijual di tempat pelelangan ikan.“Dijual di lelang ikan, suami sendiri yang jual pakai sepeda,” katanya.Hasil penjualan kerang berkisar Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per hari. Namun, sebagian besar hasil tersebut digunakan untuk membeli solar seharga Rp 50.000 per hari untuk bahan bakar perahu.“Yang penting bisa makan sama anak, berapa saja pendapatan, untuk anak jajan di sekolah dibatasi uang yang dibawa karena hasil cari kerang kita juga pakai beli solar. Apa lagi solar sekarang 10.000 seliter, mahal. Karena kami beli Rp 50.000 seharian, karena jauh lokasi cari kerannya,” kata Hasnah.Sisa uang dipakai untuk membeli beras sekitar dua liter per hari. Jika tidak cukup, ia memasak bubur untuk dimakan bersama keluarga.“Jadi bisa sisanya pakai beli beras 2 liter. Biasa kalau tidak ada lauk kita bikin bubur untuk makan,” ujar Hasnah.Saat cuaca tidak bersahabat, Hasnah bekerja serabutan di gudang-gudang kawasan industri Makassar, mengeringkan rumput laut dan teripang.“Pergi cari pekerjaan lain di gudang, kaya jemur rumput laut dan teripang. Apa saja yang bisa dikerjakan, yang penting kita bisa makan,” katanya.Hasnah mengaku jarak mencari kerang kini semakin jauh akibat pembangunan di kawasan pesisir Makassar.“Inikan dulu belum ada pembangunan, kami tidak terlalu jauh mencari, tapi karena sudah jadi perusahaan di bawah, jadi jauh pergi pakai solar,” ungkapnya.Ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar keluarganya tidak terus hidup dalam keterbatasan.“Saya berharap pemerintah bisa bantu supaya tidak menderita seperti ini. Karena anak juga ada yang tidak sekolah, yang tamat SMA cuma satu,” ujarnya.


(prf/ega)