Apindo Jateng Sambut Positif Penghapusan UMSK, Minta Daerah Lain Ikuti Jepara

2026-02-03 14:29:52
Apindo Jateng Sambut Positif Penghapusan UMSK, Minta Daerah Lain Ikuti Jepara
SEMARANG, - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah merespons positif penghapusan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) di beberapa daerah, termasuk Jepara.Frans menilai langkah tersebut sudah tepat lantaran bagi pengusaha, kebijakan UMSK perlu dikaji ulang penerapannya untuk sektor tertentu.“Itu memang harus begitu karena kita perjuangkan begitu (dihapus). Karena UMSK itu harus dikaji. Jepara bersepakat untuk mengkaji (UMSK) 2026 sesuai aturan Mahkamah Konstitusi dan Peraturan Pengupahan,” kata Frans saat dikonfirmasi, Senin .Menurut Frans, sektor seperti garmen semestinya tidak masuk dalam kategori UMSK.Dia berharap agar daerah lainnya mengikuti langkah Jepara untuk mengkaji ulang UMSK di wilayahnya.“Tidak bisa misalnya sembarangan tentukan misalnya sektor garmen, itu tidak masuk di dalam kategori sektoral (UMSK). Jepara ini sudah betul, daerah lain kita harap mengikuti karena itu sudah ada secara limitatif persyaratan bisa ada sektoral,” lanjutnya.Baca juga: Buruh Akan Demo di Istana Negara Hari Ini, Tuntut Revisi UMSK Jawa BaratFrans mengeklaim, dalam praktiknya perusahaan sudah memberikan upah lebih tinggi bagi pekerjaan yang berisiko, membutuhkan keterampilan khusus, atau memiliki beban kerja berat.“Kalau pekerjaan berat, berbahaya, mengandung risiko atau butuh keterampilan tinggi, kita (perusahaan) bayar lebih. Itu sudah berlaku dalam pasar kerja,” ujarnya.Dia juga menyebut bagi perusahaan yang mengalami kemajuan selama 2025 layak dimintai kenaikan upah oleh buruh di dalamnya.Baca juga: Kecewa UMSK 2026 Tak Kunjung Disahkan, Massa Buruh Majalengka Blokade Jalan NasionalNamun bagi perusahaan yang minus dalam keuangan perlu dimaklumi bila hanya memberi sedikit kenaikan upah pada 2026.“Perusahaan yang maju yang tahun itu bagus, ya buruh akan tuntut kenaikan upah lebih banyak itu wajar. Tapi perusahaan yang kurang mampu atau memang tahun itu agak minus ya kenaikan upah juga sedikit. Mereka tahu itu ya itu itu realitas di dalam kehidupan perusahaan,” bebernya.Sementara itu, Ketua Federasi Serikat Pekerja Industri Pertanian (FSPIP) sekaligus anggota Dewan Pengupahan Jawa Tengah, Karmanto, menyayangkan hilangnya UMSK di beberapa daerah.Karmanto menyoroti Kota Semarang dan Kabupaten Jepara, di mana sejumlah sektor unggulan yang sebelumnya memiliki UMSK kini tidak lagi tercantum.“Di Jepara, semua sektor hilang total. Tahun 2025 ada UMSK, tapi tahun 2026 tidak ada. Di Kota Semarang, sektor konveksi pakaian jadi dan furniture yang kami usulkan juga tidak masuk. Ini jelas kemunduran,” ungkap Karmanto.Ia menyebut, keputusan tersebut bertolak belakang dengan kondisi sektor unggulan yang menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tinggi, memiliki pertumbuhan industri signifikan, serta berorientasi ekspor.Baca juga: UMSK 8 Kabupaten/Kota Siap Ditetapkan, Dedi Mulyadi Ungkap Kendala di Purwakarta“Kami kecewa, karena sektor-sektor unggulan yang menopang ekonomi daerah justru dihapus dari daftar UMSK. Padahal, sektor ini penting untuk buruh dan daerah,” tambahnya.Buruh menilai terlepas adanya kenaikan upah, besaran UMK dan UMSK di Jawa Tengah saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan hidup layak (KHL) buruh.“Pendapatan buruh sebulan ini belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, daya beli masyarakat akan lemah karena mereka lebih banyak menahan pengeluaran,” katanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-02-03 13:52