KEBUMEN, – Di tengah kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kebumen, Juniadi Prasetiyo membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk berwirausaha.Berbekal hobi dan pengalaman di bidang peternakan, ia sukses mengembangkan usaha telur puyuh dengan produksi mencapai 1,5 kuintal per hari dan omzet ratusan juta rupiah per bulan.Usaha peternakan telur puyuh milik Juniadi berlokasi di Desa Kambangsari, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen.Baca juga: Libur Nataru, MBG di Palopo Masih Berjalan hingga Pembagian Rapor, Lanjut untuk Ibu HamilDirintis hampir satu tahun lalu, usaha tersebut terus menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah ternak maupun kapasitas produksi.“Awalnya saya mulai dari 5 ribu ekor, kemudian berkembang menjadi 10 ribu, dan sekarang 15 ribu ekor. Ke depan, saya berencana membuka kandang baru di lokasi lain dengan tambahan 15 ribu ekor lagi,” ujar Juniadi saat ditemui di kandang puyuhnya pada Kamis .Ketertarikan Juniadi pada usaha ini berawal dari hobi beternak.Sebelumnya, ia juga telah berpengalaman mengelola peternakan ayam broiler dengan kapasitas hingga 40 ribu ekor.“Saya melihat peluang telur puyuh sangat menjanjikan. Permintaannya tinggi, terutama untuk pasar luar daerah. Dari situ saya mencoba, lalu akhirnya serius menekuni usaha ini,” jelasnya.Dari total 15 ribu ekor puyuh tersebut, produksi telur mencapai lebih dari 1 kuintal hingga 1,5 kuintal per hari, atau sekitar 150 kilogram.Dengan harga pasar saat ini sekitar Rp 30 ribu per kilogram untuk pengambilan langsung di kandang, omzet kotor per bulan bisa menembus Rp 100 juta.“Kalau dihitung kasar, produksi harian sekitar satu setengah kuintal dikalikan harga sekarang. Setelah dikurangi biaya pakan, operasional, dan dua karyawan tetap, keuntungan bersihnya masih sekitar Rp 30 juta per bulan,” ungkapnya.Untuk memenuhi kebutuhan pakan, peternakan milik Juniadi menghabiskan sekitar 46 sak pakan per minggu, dengan berat masing-masing sak 50 kilogram.Sebagian besar hasil produksi telur puyuh dipasarkan melalui pengepul atau broker yang mendistribusikannya ke luar daerah, terutama Jawa Barat.Meski demikian, Juniadi menilai pasar lokal Kebumen masih menyimpan peluang besar, namun belum tergarap secara maksimal.“Di Kebumen sebenarnya potensinya besar. Namun, penyerapan masih terbatas. Salah satunya karena belum semua dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) memasukkan telur puyuh sebagai menu rutin. Padahal, jika dijadwalkan secara merata, ini bisa sangat membantu peternak lokal,” katanya.
(prf/ega)
Tak Sekadar ASN, Kisah Juniadi Raup Omzet Ratusan Juta dari Telur Puyuh di Kebumen
2026-01-12 16:31:39
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 17:13
| 2026-01-12 17:11
| 2026-01-12 16:49
| 2026-01-12 15:27
| 2026-01-12 15:12










































