JAKARTA, – Wacana pemberantasan saham gorengan kembali menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta Bursa Efek Indonesia menertibkan praktik yang berpotensi merugikan investor ritel.Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai bertemu jajaran direksi BEI dan pelaku pasar modal di Gedung BEI, Jakarta, Kamis . Ia menegaskan pengendalian praktik penggorengan saham menjadi tanggung jawab otoritas bursa demi melindungi investor kecil.“Artinya yang goreng-goreng itu kan dikendalikan sama dia (BEI), supaya investor kecil terlindungi,” ujar Purbaya.Baca juga: BEI Ubah Distribusi Data, Aktivitas Transaksi dan Investor Aktif MelonjakPurbaya juga menyebut pemerintah tidak akan terburu-buru memberi insentif sebelum BEI menertibkan perilaku pelaku pasar, terutama praktik pengerekkan harga saham secara tidak wajar.Menanggapi hal itu, Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management Kartika Sutandi menilai isu saham gorengan rawan disalahpahami. Isu tersebut berisiko memicu ketakutan berlebihan di pasar modal tanpa definisi yang jelas.Analis yang akrab disapa Tjoe Ay mempertanyakan makna saham gorengan yang kerap digunakan secara longgar. Label tersebut sering dilekatkan pada saham yang harganya melonjak tajam atau dinilai mahal secara valuasi.Tjoe Ay menilai cara pandang tersebut keliru. Harga saham yang mahal tidak otomatis mencerminkan praktik manipulatif. Valuasi tinggi sering kali lahir dari persepsi investor atas kualitas bisnis, kinerja keuangan, serta prospek jangka panjang perusahaan.Stigma gorengan pada saham mahal dinilai tidak adil. Pendekatan itu berisiko menyeret saham berfundamental kuat ke dalam citra negatif.Tjoe Ay mencontohkan PT Bank Central Asia Tbk. Saham bank ini diperdagangkan dengan valuasi tinggi dibandingkan emiten perbankan lain. Harga tersebut mencerminkan kepercayaan pasar terhadap konsistensi kinerja, tata kelola, dan kualitas bisnis.Baca juga: Hari Pertama Melantai di BEI, Saham Superbank (SUPA) Langsung Melonjak 24 PersenIa menyebut hampir tidak ada bank di kawasan Asia Tenggara yang diperdagangkan hingga tiga atau empat kali nilai buku. Fakta ini menunjukkan valuasi tinggi bukan anomali dan tidak otomatis menandakan manipulasi harga.“Justru itu gue mau tanya, definisi gorengan itu apa? Sekarang saham mahal itu pasti bukan gorengan. Kalau saham mahal dibilang gorengan, berarti BCA itu bank paling mahal dan paling gorengan. Padahal di ASEAN saja enggak ada bank yang valuasinya sampai tiga atau empat kali book value,” ujar Tjoe Ay dalam program Filonomics Kompas.com, Kamis .
(prf/ega)
Harga Saham Melonjak Disebut “Gorengan”, Tjoe Ay Sebut Salah Kaprah
2026-01-12 06:47:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:55
| 2026-01-12 06:50
| 2026-01-12 05:59
| 2026-01-12 05:56
| 2026-01-12 05:21










































