Amazon Catat Kinerja Cemerlang, Tapi PHK 14.000 Karyawan

2026-01-30 15:58:57
Amazon Catat Kinerja Cemerlang, Tapi PHK 14.000 Karyawan
– Amazon mencatat kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pada kuartal III-2025. Namun, di tengah hasil gemilang itu, perusahaan e-commerce asal Amerika Serikat ini justru mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap ribuan pegawainya.Dilansir dari CNBC, kinerja Amazon pada kuartal III didorong oleh meningkatnya permintaan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), khususnya pada segmen cloud computing dan iklan digital.Total penjualan Amazon naik 13 persen menjadi 180,17 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.000,7 triliun (asumsi kurs Rp 16.649 per dollar AS). Capaian tersebut melampaui perkiraan analis sebesar 177,8 miliar dollar AS (Rp 2.958,9 triliun) menurut data LSEG.Baca juga: Wall Street Hijau, Saham Amazon Jadi PenopangLaba per saham tercatat 1,95 dollar AS (Rp 32.466), lebih tinggi dari estimasi rata-rata analis sebesar 1,57 dollar AS (Rp 26.166).“Amazon memiliki keunggulan kompetitif yang kuat berkat skala bisnisnya yang tak tertandingi,” tulis analis Pivotal Research dalam catatan risetnya.Mereka menilai Amazon masih memiliki peluang pertumbuhan besar di segmen AWS dan iklan digital yang ber-margin tinggi.Unit cloud computing Amazon Web Services (AWS) kembali menjadi penopang utama laba perusahaan. Penjualan AWS naik 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 33 miliar dollar AS (Rp 549,4 triliun), melampaui ekspektasi pasar.Unit ini menyumbang laba operasional sebesar 11,4 miliar dollar AS (Rp 189,8 triliun), atau sekitar dua pertiga dari total laba operasional Amazon.Baca juga: PHK Terbesar, Amazon Pecat 14.000 Karyawan, Mau Pakai AISelain itu, bisnis iklan digital Amazon juga mencatat pertumbuhan signifikan, naik 24 persen menjadi 17,7 miliar dollar AS (Rp 294,7 triliun).Amazon memperkirakan total belanja modal tahun ini mencapai 125 miliar dollar AS (Rp 2.081 triliun), naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 118 miliar dollar AS (Rp 1.964 triliun).Chief Financial Officer Brian Olsavsky menyebut nilai investasi kemungkinan akan terus meningkat hingga 2026.Meski kinerja AWS solid, Amazon tetap menghadapi persaingan ketat dari Google dan Microsoft. Pendapatan cloud Google tumbuh 34 persen, sementara Azure milik Microsoft naik 40 persen pada periode yang sama.Kendati demikian, Amazon masih menjadi penyedia infrastruktur cloud terbesar di dunia. Analis menilai perusahaan tetap unggul dalam efisiensi dan skala bisnis, meski belum sepenuhnya memanfaatkan potensi besar dari proyek-proyek AI bernilai tinggi.Baca juga: Amazon Pangkas 14.000 Pekerja demi Fokus ke Investasi AIUntuk kuartal berikutnya, Amazon menargetkan penjualan antara 206 miliar hingga 213 miliar dollar AS (Rp 3.430,9 triliun–Rp 3.548,3 triliun).Titik tengah proyeksi, yakni 209,5 miliar dollar AS (Rp 3.489,7 triliun), sedikit di atas perkiraan analis sebesar 208 miliar dollar AS (Rp 3.462,9 triliun) menurut LSEG.REUTERS/DAMIEN EAGERS Ilustrasi gudang Amazon.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-30 14:43