Cerita Reni, Rayakan Natal Jauh dari Keluarga karena Keterbatasan Biaya

2026-01-11 14:37:42
Cerita Reni, Rayakan Natal Jauh dari Keluarga karena Keterbatasan Biaya
JAKARTA, – Menjelang dimulainya misa pagi Natal 2025, seorang perempuan bergaun bermotif bunga berwarna burgundy tampak duduk termenung di barisan bangku jemaat Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel, Jalan Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis .Perempuan itu bernama Reni (35), seorang perantau asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menunggu kedatangan temannya untuk melaksanakan ibadah Natal bersama.“Saya menetap di Jakarta. Memang saya setiap minggu ibadah di sini, sama teman dia belum datang,” ucap Reni saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis.Baca juga: Ratusan Doa Jemaat Hiasi Pohon Natal di GPIB Immanuel JakartaReni mengaku harus merayakan Natal di tanah perantauan karena keterbatasan biaya. Ongkos perjalanan untuk pulang ke kampung halaman di NTT dinilainya tidak murah.Selain itu, ia menyebut baru saja pulang ke NTT beberapa bulan lalu sehingga tidak memungkinkan untuk kembali mudik pada Natal tahun ini.“Enggak pulang, soalnya kemarin sudah sempat pulang, kalau pulang lagi kan biayanya lagi,” sambung Reni.Tak bisa merayakan Natal bersama keluarga di kampung halaman tentu menjadi kesedihan tersendiri bagi Reni. Pasalnya, setiap malam Natal, keluarganya yang tersebar di berbagai daerah biasanya berkumpul di NTT untuk beribadah bersama.Meski demikian, Reni tetap berusaha menjalani perayaan Natal dengan penuh suka cita, meski jauh dari orang-orang terkasih.Di sisi lain, ia juga menyampaikan harapan bagi para korban bencana alam di sejumlah daerah agar tetap dapat merayakan Natal meski dalam keterbatasan.Baca juga: GPIB Immanuel Jakarta Tanpa Dekorasi Mewah, Wujud Empati bagi Korban Bencana“Harapannya semoga dengan kami merayakan Natal, saudara-saudara yang di Sumatera pada mengalami kebanjiran mereka di sana juga bisa merayakan Natal penuh suka cita walau ada rasa sedih,” tutur dia.Harapan serupa juga disampaikan oleh jemaat lain, Eta (50), yang turut memanjatkan doa bagi para korban bencana.“Kami mendoakan juga untuk saudara kita yang menjadi korban bencana bisa merayakan Natal walau dalam keadaan yang berbeda, tetap menerima suka cita dan damai sejahtera,” jelas dia.


(prf/ega)