- Setiap 15 Desember, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) memperingati Hari Juang Kartika. Sebuah momentum historis yang tidak lahir dari seremoni administratif, melainkan dari dentuman senjata, pengorbanan prajurit, dan tekad mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Tanggal ini merujuk pada kemenangan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dalam Pertempuran Ambarawa, yang berakhir pada 15 Desember 1945. Peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak penting perjalanan TNI AD, sekaligus simbol jati diri prajurit darat sebagai kekuatan rakyat yang lahir dari perjuangan kemerdekaan.Baca juga: Sejarah dan Perkembangan TNI Angkatan Laut dari Masa ke MasaSebelum dikenal sebagai Hari Juang Kartika, peringatan 15 Desember lebih dulu disebut Hari Infanteri. Penamaan ini berkaitan langsung dengan peran pasukan infanteri sebagai ujung tombak pertempuran darat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.Infanteri menjadi kekuatan utama TKR dalam menghadapi pasukan Sekutu Inggris dan unsur NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang berupaya mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945.Seiring waktu, istilah Hari Juang Kartika digunakan untuk memperluas makna perjuangan tersebut, tidak hanya mencakup infanteri, tetapi seluruh matra Angkatan Darat sebagai satu kesatuan historis dan ideologis.Setelah Jepang menyerah pada Sekutu, Inggris datang ke Indonesia dengan dalih melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang. Namun, kedatangan pasukan Sekutu ke Semarang dan Ambarawa pada Oktober 1945 diboncengi kepentingan NICA.Situasi memanas ketika pasukan Inggris mempersenjatai kembali tentara Jepang dan membiarkan aktivitas NICA. Insiden bersenjata pecah di Magelang dan kemudian meluas ke Ambarawa, wilayah strategis yang menjadi penghubung Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta.Bagi Indonesia, jatuhnya Ambarawa berarti terbukanya jalan bagi kembalinya kekuasaan kolonial di Jawa Tengah dan Jawa bagian selatan.Baca juga: Sejarah Koopssus TNI, Pasukan Elite Gabungan Tiga MatraPertempuran Ambarawa berlangsung sengit sejak 20 November 1945. Pasukan TKR, dibantu laskar rakyat, menghadapi kekuatan Sekutu yang jauh lebih unggul dari segi persenjataan dan dukungan udara.Dalam pertempuran ini, Indonesia kehilangan salah satu perwira terbaiknya, Letnan Kolonel Isdiman, komandan pasukan dari Purwokerto, yang gugur pada 26 November 1945. Gugurnya Isdiman sempat mengguncang moral pasukan TKR.
(prf/ega)
Hari Juang Kartika TNI AD: Ini Sejarah dan Maknanya
2026-01-12 16:48:50
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 16:47
| 2026-01-12 16:38
| 2026-01-12 16:26
| 2026-01-12 16:00
| 2026-01-12 15:46










































