Cara PO SAN Pilih Ban Bus yang Ekonomis

2026-02-02 06:54:54
Cara PO SAN Pilih Ban Bus yang Ekonomis
BENGKULU, - Ban merupakan salah satu komponen penting bagi bus. Maka dari itu kondisi ban yang optimal menjadi hal yang utama dalam menjamin keselamatan penumpang dan kru yang bertugas. Direktur PO SAN, Kurnia Lesani Adnan (Sani) mengatakan, perusahaan juga punya kiat tersediri dalam pemilihan untuk menunjang layanan bus AKAP mereka. "Kalau ban kita pakai bermacam-macam merek. Kita karena hitungan ekonomi dan segala macam, kita pakai merek China. Tapi yang sudah kita uji. Pada range 60.000- 75.000 kilo untuk masa gantinya," katanya di  PO SAN Workshop Bengkulu, Selasa (18/2025)Baca juga: Cek Harga Bekas Toyota Innova Zenix per November 2025Sani mengatakan, kalau ban merek Jepang atau merek top dunia lainnya masa pakainya bisa lebih panjang dari itu. Namun secara harga jauh lebih tinggi. Sehingga secara cost per  kilometernya (CPK) tidak akan masuk dengan operasional bus. Apalagi, bus PO SAN banyak melintasi jalan lintas provinsi dengan medan yang ekstrem. Sehingga saat cuaca tidak bersahabat rawan merusak ban./ JANLIKA PUTRI Gudang suku cadang PO SAN di workshop Bengkulu"Misalnya ada batu tajam membuat ban berlubang dan tidak bisa ditambal. Padahal kondisi ban baru 80 persen misalnya, tentu akan nangis. Maka dari itu kita memilih ban dengan menghitung hitung CPK-nya yang menurut kita ideal," katanya. Sani juga menegaskan, setiap bus yang baru masuk akan diperiksa oleh mekanik sebelum akan berangkat lagi. Sehingga kondisi ban akan selalu terpantau oleh para teknisi. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 05:45