Timnas U22 Indonesia Berpotensi Tanpa Pemain Diaspora di FIFA Matchday

2026-02-05 04:06:44
Timnas U22 Indonesia Berpotensi Tanpa Pemain Diaspora di FIFA Matchday
- FIFA Matchday November 2025 akan menjadi panggung Timnas U22 Indonesia sebagai persiapan jelang tampil di SEA Games 2025.Kepastian tersebut diungkap oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir lantaran Timnas senior masih dalam tahap peralihan.Dalam artian, Timnas U22 Indonesia di bawah asuhan Indra Sjafri akan mendapat kesempatan untuk tampil di FIFA Matchday mewakili Indonesia."FIFA Matchday kali ini kita prioritaskan untuk SEA Games, tim U23 kita di bawah Coach Indra Sjafri karena Desember kan sudah SEA Games," ujar Erick Thohir.Baca juga: Timnas U22 Indonesia Main di FIFA Matchday November, Indra Sjafri Beri ApresiasiPSSI memberikan dukungan penuh kepada Indra Sjafri untuk mempersiapkan tim jelang SEA Games 2025.Timnas U22 Indonesia juga dikabarkan memanggil para pemain diaspora untuk tampil di FIFA Matchday. "Serta tidak menutup kemungkinan kita panggil pemain terbaik kalau mereka bisa gabung saat jeda di bulan November. Kita undang Adrian wibowo, Marselino, Mauro, Ivar, dll karena kita mau target maksimal," tambahnya.Anggota Komite Eksekutif PSSI, Arya Sinulingga, menegaskan bahwa pemanggilan pemain untuk Timnas U22 Indonesia pada FIFA Matchday November 2025 sepenuhnya menjadi keputusan pelatih Indra Sjafri.Karena akan tampil di FIFA Matchday, kemungkinan para pemain diaspora yang dipanggil adalah berusia di bawah 22 tahun.Meskipun pemanggilan ini akan digunakan sebagai persiapan menuju SEA Games 2025, peningkatan peringkat FIFA juga menjadi pertimbangan.Arya Sinulingga menyatakan bahwa klub-klub pemain diaspora mungkin akan melepaskan mereka, tetapi keputusan akhir tetap di tangan Indra Sjafri.Baca juga: PSSI Jelaskan Alasan Timnas U17 Hanya Pakai 4 Pemain Diaspora di Piala Dunia"Klubnya pasti melihat apakah statusnya FIFA Matchday atau tidak? Tetapi itu tergantung kebutuhan dari Coach Indra," kata Arya Sinulingga kepada awak media di Jakarta Selatan, Selasa .Arya Sinulingga menegaskan bahwa prioritas pemanggilan ada di tangan Indra Sjafri, yang lebih memahami apakah momen ini akan digunakan untuk persiapan SEA Games 2025 atau tidak."Apakah ini untuk SEA Games murni atau ada kebutuhan untuk FIFA Matchday atau FIFA Matchday-nya dipakai untuk kebutuhan SEA Games," tambahnya./ADIL NURSALAM Performa Ivar Jenner di lini tengah Timnas Indonesia saat mengalahkan China pada laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, Kamis di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Setelah menghadapi China, Indonesia dikalahkan Jepang pada laga terakhir.PSSI tidak memaksa jika FIFA Matchday November digunakan sepenuhnya untuk persiapan SEA Games 2025.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-05 03:55