Kisah Abdul Azis Mengajar di Wilayah Sulit Internet, Ubah Sampah Plastik Jadi Adiwiyata

2026-01-14 11:13:10
Kisah Abdul Azis Mengajar di Wilayah Sulit Internet, Ubah Sampah Plastik Jadi Adiwiyata
SUMBAWA, - Keterbatasan akses internet tidak menghalangi Abdul Azis, guru di SDN Selang, Desa Kerekeh, Kabupaten Sumbawa, NTB, untuk berinovasi dan membawa sekolahnya menuju gerbang adiwiyata.Di tengah keterbatasan, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan oase inovasi lingkungan.Melalui gerakan "SaPa Bu Eco", yaitu Sampah Plastik Membuat Ecobrick, Abdul Azis mengajak siswa, guru, dan para orangtua berbuat lebih banyak untuk kelestarian lingkungan.Baca juga: Dua Keponakan Jadi Korban, Paman Desak Polisi Tangkap Guru Madrasah Terduga Pelaku"Kami ingin mengurangi polusi sampah plastik. Karena sampah semakin banyak, namun tak ada upaya daur ulang. Jadi saya meminta siswa membawa satu botol ecobrick setiap Sabtu, dan hasilnya luar biasa," ujar Abdul Azis penuh semangat saat dikonfirmasi pada Selasa .Dari gerakan kecil itu, Abdul Azis mengubah ecobrick menjadi bangku literasi.Setiap bangku membutuhkan 19 botol ecobrick, menjadi saksi bisu kegiatan belajar di luar kelas, seperti Kamis Mengaji Serentak (KaJiTa), literasi Al Quran, maupun membaca buku setiap harinya."Kuncinya adalah konsistensi, teladan, dan kolaborasi," tegas Azis.Baca juga: Cerita Guru di Yogyakarta, AI Buat Siswa Tak Paham Materi Pembelajaran"Kami memanfaatkan sampah plastik dari rumah siswa. Orangtua pun ikut terlibat, membantu anak-anak membuat ecobrick," katanya.Ia mengisahkan bahwa perjalanan ini tidak instan, melainkan buah dari kesabaran, komunikasi aktif, dan kesadaran akan pentingnya gerakan peduli lingkungan.Ia tak pernah menyerah dan terus memberikan teladan terlebih dahulu untuk menggerakkan guru, siswa, dan orangtua dalam pemanfaatan sampah plastik.Abdul Azis bahkan rela tinggal di ruang perpustakaan sekolah dengan kondisi yang tak layak dalam rangka lebih dekat dengan siswa, guru, maupun para warga desa.Ia menyiapkan berbagai instrumen, menata taman sekolah, berkebun dengan aneka jenis sayur sebagai tugas P5 siswa, serta membuat aneka ecobrick demi terwujudnya sekolah Adiwiyata.Kini, SD Negeri Selang juga tengah berjuang meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat provinsi NTB yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), yang akan diumumkan hasilnya pada Desember 2025."Mohon doa dan dukungan semua pihak," harap Abdul Azis. "Semoga kami bisa melaju ke tingkat nasional tahun depan," kata Abdul Azis penuh harap.Dari gerakan yang terus konsisten itu, SD Negeri Selang juga menembus 20 besar EcoYouth Challenge 2025 yang diselenggarakan oleh Lembaga Lingkara.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-14 11:24