Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah

2026-02-04 13:20:58
Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah
JAKARTA, - Di tengah padatnya pusat bisnis Jakarta, sekelompok warga di Kampung Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, memilih tidak menyerahkan urusan sampah sepenuhnya ke sistem kota.Dari rumah ke rumah, sampah dipilah, dikumpulkan, dan diolah sendiri.Botol plastik masuk bank sampah, sisa makanan rumah tangga diolah menjadi pakan maggot, sementara residu lain diproses lewat komposter.Upaya ini dijalankan secara swadaya, konsisten, dan sudah berlangsung bertahun-tahun.Setiap hari, sekitar 40 kilogram sampah organik di RW 06 Kampung Kebon Melati diolah melalui budidaya maggot.Baca juga: Di Balik Gedung Pencakar Langit, Kampung Kebon Melati Bertahan dengan Ruang HijauSampah dapur yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini menjadi bagian dari siklus ekonomi kecil warga.Maggot yang dihasilkan dijual ke pemancing atau dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan unggas.Hasilnya memang tidak besar, tetapi cukup untuk menambah pemasukan warga yang terlibat.“Kami punya inovasi pengelolaan sampah. Ada bank sampah, pengolahan sampah organik pakai maggot, dan pernah juga ekobrick. Sampah plastik masuk bank sampah, sampah organik rumah tangga masuk maggot,” kata Andi (48), Ketua RT 008 RW 06 Kebon Melati saat ditemui Kompas.com, Rabu ./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Budidaya Maggot untuk sampah organik di RW 06 Kebon Melati, Jakarta PusatMenurut Andi, pengelolaan maggot di RW 06 sudah berjalan sekitar lima tahun. Awalnya, warga hanya memiliki satu kotak maggot. Bahkan, mereka sempat kebingungan menyalurkan hasilnya karena jumlahnya terlalu banyak.“Saking banyaknya, ada yang dikasih ke ayam atau ikan. Ini pengolahan sampah murni dari warga,” ujar Andi.Ia menjelaskan, maggot harus dikelola secara berkelanjutan karena memiliki siklus hidup yang terus berulang.Baca juga: Jerit Hati Para Anak Fatherless: Kehilangan Sosok Ayah Sangat BeratSetelah kawin, lalat mati dan diolah menjadi pupuk, sementara telur menetas menjadi maggot baru.“Makanya kalau sudah penuh, kita juga harus mikir mau dikemanain hasilnya,” kata Andi.Selain maggot, RW 06 juga memiliki komposter untuk mengolah sampah yang sulit diproses.Pupuk yang dihasilkan dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanah dan tanaman warga.Tidak heran jika kampung ini terlihat lebih hijau dibandingkan kawasan sekitarnya yang didominasi beton dan aspal.“Semua ini dikerjakan bareng-bareng warga. Di RW 6 ini kami jaga betul kebersihan dan pengolahan sampahnya,” ujar dia.Pengelolaan sampah di Kebon Melati tidak berhenti pada aspek teknis.Warga juga membangun budaya kolektif melalui program “sedekah sampah”.Di setiap RT tersedia drop box tempat warga menyumbangkan sampah plastik.Sampah tersebut kemudian diambil oleh anak-anak karang taruna untuk dijual.“Hasilnya buat kegiatan mereka,” kata Andi.Baca juga: Arif Rela Izin Kerja Demi Ambil Rapor Anak, Komitmen Lawan Fenomena Fatherless


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

“Fitur ini dapat memberi kendali kepada pengguna untuk menetapkan batas waktu menonton Shorts. Intervensi kecil seperti ini penting untuk membantu anak dan remaja belajar mengatur diri, jelas Graham.Pantauan KompasTekno, area Mental Health Shelf dan fitur pembatasan Shorts memang sudah bisa dijajal di Indonesia.Seperti disebutkan di atas, rak Mental Health Shelf yang dilabeli From health sources akan muncul ketika pengguna memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan penyakit mental.Baca juga: MTV Tutup Lima Channel Musik Akhir 2025, Tergeser YouTube dan Medsos?Sementara fitur pembatasan YouTube Shorts bisa diakses melalui menu pengaturan, tepatnya Settings > Time management > dan Shorts feed limit./Bill Clinten Fitur pembatasan waktu menonton Shorts yang baru dirilis YouTube di Indonesia.Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja mengatakan kedua fitur ini merupakan komitmen YouTube untuk membantu remaja Indonesia membangun kebiasaan digital yang lebih sehat serta mengakses informasi yang lebih bertanggung jawab.Di Indonesia, Suwandi menyebut kesehatan mental remaja akan menjadi salah satu fokus dan perhatian YouTube di Indonesia.“Kami sangat serius dengan komitmen kami soal kesehatan mental, dan ini akan menjadi topik yang akan terus menjadi fokus YouTube ke depannya,” kata Suwandi./Bill Clinten Country Head YouTube Indonesia, Suwandi Widjaja dalam acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis .Meski jadi fokus YouTube di masa depan, Suwandi menambahkan bahwa dukungan kreator dan pakar menjadi elemen penting agar komitmen ini juga bisa dijalankan dengan baik.Baca juga: YouTube Sulap Video Burik Lawas Jadi Bening dengan AI“Kami membutuhkan bantuan dan kerja sama untuk melanjutkan komitmen kami dan program terkait kesehatan mental di masa depan, sekaligus memperluas jangkauannya,” pungkas Suwandi.

| 2026-02-04 12:27