JAYAPURA, – Di tengah permukiman padat penduduk di Wilayah Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, aroma kue sagu tercium wangi.Dari dapur kecil berukuran 3x4 meter, seorang perempuan bernama Juliati Harimu terlihat terus mengolah sagu.Ternyata, usahanya itu adalah sebuah perjuangan demi satu tujuan, memastikan anaknya yang berkebutuhan khusus mendapat makanan yang sehat dan layak untuk tumbuh kembangnya.Perjalanan itu dimulai pada tahun 2020, ketika Juliati dan suaminya memutuskan pindah dari Jakarta ke Papua.Baca juga: Demi Anak, Ibu Siti Aisyah Jadi Spesialis Tukang Tambal Ban Truk: Saya Nikmati Saja...Keputusan itu bukan tanpa risiko. Pasalnya di Jayapura, mereka justru menghadapi tantangan baru. Salah satunya, sulitnya mencari makanan sehat yang sesuai untuk sang anak Gio, yang mengalami epilepsi dan autisme.“Awal kami pindah ke sini (Kota Jayapura) Gio setiap malam tidak bisa tidur, dia menangis terus sampai pagi yang membuat kami juga bingung ada apa dengan anak kami,” kenang Juliati.Dari kondisi itu, Juliati dan sang suami kemudian berkonsultasi dengan dokter dan mereka diberikan rekomendasi penting, yakni mengganti makanan Gio dengan makanan bebas gluten.Di tanah Papua, Juliati menemukan harapan itu pada pangan lokal sagu. Bahan makanan khas Papua ini secara alami bebas gluten, mudah dicerna, dan aman untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus tertentu.Dengan ketelatenan seorang ibu, Juliati mulai bereksperimen di dapurnya. Sagu ia olah menjadi berbagai bentuk makanan seperti kue, puding, hingga cemilan sederhana dan diberikan kepada Gio.Baca juga: Cerita Tatik, Seorang Ibu dari Semarang yang Hidupi Keluarga Lewat Jasa Jaga Pasien“Setelah mengganti makanan Gio dengan olahan sagu, perubahan besar pun terjadi. Serangan epilepsi mulai berkurang, waktu tidurnya makin teratur.""Tidak lagi menangis, dia lebih tenang dan tidak mudah sakit,” cerita Juliati sambil tersenyum.“Saat ini anak saya sudah sembuh 80 persen, dari yang awalnya dia epilepsi sejak umur 2,5 tahun dan lumpuh.""Tapi dengan makanan sehat gluten free, saat ini dia sudah sembuh dan bisa ke sekolah. Bisa duduk lebih tenang dan tidak lagi menangis seperti sebelumnya,” tambah dia.Melihat perkembangan sang anak, Juliati merasa perjuangannya tak boleh berhenti hanya untuk keluarganya sendiri.Baca juga: Cerita Ibu Pekerja Sri Wulandari: Berbagi Peran Sebagai Pasangan, Berbagi Tugas Bersama“Saya ingin berdampak bagi anak disabilitas dan orang tua dengan mulai membuat berbagai varian kue berbahan dasar sagu,” sebut dia.
(prf/ega)
Sosok Juliati Harimu, Ibu Pengolah Sagu Jadi "Obat" demi Kesembuhan Anaknya
2026-01-12 07:40:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:43
| 2026-01-12 07:38
| 2026-01-12 05:46
| 2026-01-12 05:37
| 2026-01-12 05:32










































