Sejarah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, 5 November 2025

2026-02-04 10:34:38
Sejarah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, 5 November 2025
- Setiap tanggal 5 November, kita merayakan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional.Bukan sekadar melihat hijaunya daun atau kicuan burung, peringatan ini sekaligus untuk menyadari bahwa setiap bunga yang tumbuh dan hewan yang hidup adalah bagian keseimbangan besar yang menopang kehidupan manusia. Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang disingkat HCPSN menjadi momentum untuk mengingat kembali tanggung jawab bersama terhadap kelestarian alam Nusantara. Baca juga: Alfred Russel Wallace, Peneliti Flora dan Fauna Inggris di IndonesiaDilansir dari Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 1993 oleh Presiden Soeharto.Pada masa itu, pemerintah menyadari bahwa Indonesia, meski dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, menghadapi ancaman serius dari perburuan liar, eksploitasi berlebihan, dan kerusakan habitat.Sementara itu, melalui laman resmi universitas, Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda, Dewi Wahyuni mengungkapkan puspa dan satwa dalam KBBI berarti bunga dan hewan. Puspa dan satwa merupakan salah satu unsur kehidupan yang penting dalam kehidupan. Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan puspa dan satwa ini. Sehingga sudah tentu wajib untuk kita terus jaga dan dipelihara agar keberadaanya tetap lestari.Melalui Keppres tersebut, pemerintah menetapkan tanggal 5 November sebagai hari nasional untuk menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap flora dan fauna, bukan hanya yang langka, melainkan juga yang tumbuh dan hidup di sekitar manusia sehari-hari. Arwana super red alias silok merah (Scleropages formosus).Sebagai simbol keberagaman dan kekayaan hayati Indonesia, Presiden Soeharto menetapkan tiga jenis puspa (bunga) dan tiga jenis satwa (hewan) sebagai simbol nasional.Ketetapan ini bukan hanya simbol kebanggaan, melainkan juga ajakan agar masyarakat memahami makna di baliknya: setiap spesies memiliki peran dalam rantai kehidupan yang saling terhubung.Baca juga: Alfred Russel Wallace, Peneliti Flora dan Fauna Inggris di IndonesiaSHUTTERSTOCK/MHEEPANDA Ilustrasi tanaman bunga melati. Melati dikenal sebagai salah satu bunga yang memiliki aroma yang sangat wangi dan sering diekstrak untuk dijadikan parfum dan berbagai wewangian lainnya.Tahun ini, HCPSN mengangkat tema “Pulihkan Keanekaragaman Hayati, Lestarikan Kehidupan Bumi." Tema ini menjadi pengingat bahwa pelestarian flora dan fauna bukan hanya tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama.Setiap pohon yang tumbuh dan setiap hewan yang hidup adalah bagian dari jantung bumi yang terus berdenyut menjaga kehidupan.Dengan tema tersebut, pemerintah bersama masyarakat diajak untuk: Baca juga: Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ada Peran Presiden SoehartoMeski Indonesia memiliki sekitar 919 jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 2018, ancaman terhadap mereka belum juga reda.Hilangnya hutan akibat alih fungsi lahan, penebangan liar, dan perdagangan satwa ilegal menjadi penyebab utama penurunan populasi banyak spesies endemik.Komodo, misalnya, kini hanya bisa ditemukan di kawasan tertentu di Nusa Tenggara Timur. Elang Jawa, yang dulunya terbang bebas di pegunungan Pulau Jawa, kini jumlahnya diperkirakan kurang dari 250 ekor di alam liar.Di Sumatera, Rafflesia arnoldii, si padma raksasa juga semakin sulit ditemukan karena kerusakan habitat hutan hujan tropis yang menjadi rumahnya.Menjaga puspa dan satwa bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab moral seluruh warga negara. Dari setiap tindakan kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan hingga tidak membeli satwa dilindungi, menjadi bentuk peran kita dalam pelestarian. Baca juga: Perlindungan Komodo, Ikon Hari Cinta Puspa Satwa Nasional


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-02-04 09:27