Litbang Kompas: 31,2 Persen Publik Nilai Infrastruktur Jadi Prioritas Pemulihan Sumatera

2026-02-03 06:05:51
Litbang Kompas: 31,2 Persen Publik Nilai Infrastruktur Jadi Prioritas Pemulihan Sumatera
JAKARTA, - Sebanyak 31,2 persen publik menilai bahwa infrastruktur dasar menjadi sektor yang membutuhkan penanganan segara dalam pemulihan pascabencana di Sumatera.Dilansir dari Kompas.id, infrastruktur dasar tersebut meliputi jalan, jembatan, listrik, dan air. Hal tersebut terekam dalam hasil jajak pendapat yang dirilis Litbang Kompas.Sektor lain yang membutuhkan penanganan segera adalah pemulihan ekonomi masyarakat (26,6 persen); layanan kesehatan dan pendidikan (24,2 persen); serta perumahan warga (13,3 persen).Baca juga: Jelang Natal, Pemerintah Data Kerusakan Gereja akibat Banjir Sumatera, Kejar PerbaikanSetelah itu, responden menilai kebutuhan dasar dan logistik (2,2 persen) serta dukungan psikososial (2,1 persen) menjadi sektor yang membutuhkan penanganan segera pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Mayoritas masyarakat mengaku yakin bahwa pemerintah mampu menangani bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tanpa bantuan asing.Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan, sebanyak 54,2 persen responden meyakini pemerintah mampu menangani bencana di Sumatera tanpa bantuan asing.Sementara itu, 25,2 persen responden menyatakan tidak yakin pemerintah dapat mengatasi bencana tersebut tanpa dukungan dari pihak luar.Baca juga: Banjir Sumatera Turut Bawa Jenazah dari Kuburan, Sempat Masuk ke Data Korban TewasSedangkan 12,3 persen menyatakan "Sangat yakin". Lalu, 4,4 persen menyatakan "Sangat tidak yakin". Serta, 3,9 persen sisanya menjawab "Tidak tahu".Adapun 56,4 persen masyarakat menilai pemerintah pusat memiliki komitmen yang kuat dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai prioritas nasional.Angka 56,4 persen itu terbagi dari 25,8 persen menyatakan "Sangat Kuat" dan 30,6 persen menjawab "Kuat".Baca juga: Prabowo Panggil Menteri ke Hambalang, Bahas Banjir Sumatera dan Libur Akhir TahunLalu, 41,6 persen lainnya menyatakan bahwa komitmen pemerintah dalam penanganan bencana Sumatera sebagai prioritas nasional masih lemah.Angka 41,6 persen pernyataan publik itu terbagi dari 30,0 persen menyatakan "Lemah" dan 11,6 persen menyatakan "Sangat Lemah". Adapun sisanya, yakni 2,0 persen publik menjawab "Tidak Tahu".Sebagai informasi, Litbang Kompas melakukan jajak pendapat pendapat melalui telepon pada 8-11 Desember 2025.Litbang Kompas mewawancarai 510 responden dari 76 kota di 38 provinsi. Sampel ditentukan secara acak dari responden panel Litbang Kompas sesuai proporsi jumlah penduduk di setiap daerah.Baca juga: Ketua MPR Sebut Pemerintah Sangat Serius Tangani Banjir-Longsor SumateraTingkat kepercayaan dengan metode ini sebesar 95 persen, dengan margin of error penelitian ± 4,24 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana. Meskipun demikian, kesalahan di luar pengambilan sampel dimungkinkan terjadi.Berita ini dilansir dari Kompas.id dengan judul "Catatan Publik terhadap Pemulihan Sumatera"


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-03 04:54