Guru di Era Prabowo: Dari 'Tukang Ajar' Jadi Enabler Global

2026-02-03 08:15:59
Guru di Era Prabowo: Dari 'Tukang Ajar' Jadi Enabler Global
Lupakan sejenak bayangan romantis tentang guru tua yang berdebu kapur tulis di ruang kelas yang sunyi. Di tahun 2025 ini, realitas pendidikan kita sedang dijungkirbalikkan.Bayangkan ini: seorang guru di pedalaman Papua tidak lagi berdiri kaku di depan papan hitam. Ia kini menyentuh layar pintar (smartboard), memandu siswanya berinteraksi langsung dengan mentor bahasa dari Jakarta, bahkan mengakses materi global tanpa perlu pusing mencari sinyal internet.Ini bukan fiksi ilmiah. Ini adalah wajah baru 288.000 sekolah kita berkat program digitalisasi masif dari pemerintahan Presiden Prabowo. Ratusan ribu layar interaktif sudah mendarat di sekolah-sekolah.Namun, sebagai seorang analis yang berkutat dengan manajemen manusia (HR), saya ingin mengingatkan satu hal: Teknologi semewah apa pun hanyalah seonggok plastik dan logam tanpa operator yang andal.Di sinilah letak pertaruhannya. Kunci sukses Indonesia Emas 2045 bukan pada seberapa canggih smartboard-nya, tapi seberapa cepat kita bisa mengubah mentalitas guru: dari sekadar "pengajar" konvensional menjadi seorang "enabler" global.Kenapa harus berubah? Karena zaman memaksa demikian.Hari ini, guru tidak lagi memegang monopoli kebenaran atau pengetahuan. Materi sejarah, rumus matematika, hingga tata bahasa Inggris sudah tersedia lengkap-bahkan lebih menarik-di internet.Teknologi seperti Kipin EdTech bahkan memungkinkan konten jutaan jam itu diakses secara luring (offline).Jika guru hanya bertahan sebagai "penyuap materi" atau tukang suruh menghafal, profesi mereka akan usang digilas mesin.Peran guru harus naik kelas. Mereka harus bermetamorfosis menjadi kurator konten, fasilitator diskusi yang tajam, dan mentor karakter. Beban administrasi biar diurus teknologi; waktu guru harus habis untuk membangun logika dan empati siswa.Data tidak berbohong. Digitalisasi yang tepat guna terbukti mampu mendongkrak literasi hingga 14 persen dan numerasi 27 persen. Tapi syaratnya berat: gurunya harus siap.Tentu, bicara lebih mudah daripada praktik. Kita tidak bisa menutup mata bahwa literasi digital guru-guru kita masih beragam. Belum lagi tantangan klasik di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Jika salah urus, banjir teknologi ini malah bikin guru stres (tech overload).Di sinilah pendekatan manajemen talenta (HR) diperlukan. Kita tidak bisa hanya melempar alat lalu berharap keajaiban.Pertama, kita butuh "Upskilling" yang radikal tapi manusiawi. Jangan lagi pelatihan basa-basi. Kita butuh skema pelatihan hibrida (misalnya 120 jam/tahun) yang fokus pada blended learning.Kedua, insentif. Dalam dunia profesional, keahlian baru harus dihargai. Guru di pelosok yang sukses menjadi fasilitator digital harus mendapat insentif karier yang jelas.Ketiga, redesain deskripsi kerja. Pemerintah, melalui Kemendikdasmen dan BKN, perlu merombak definisi kerja guru. Targetnya bukan lagi sekadar jam mengajar tatap muka, tapi seberapa efektif mereka memfasilitasi pembelajaran mandiri siswa.Visi "Asta Cita" pemerintahan saat ini menuntut SDM yang unggul. Guru adalah garda terdepannya.Transformasi guru menjadi enabler akan melahirkan murid yang mandiri. Kita sudah melihat percontohan sukses di mana siswa di daerah minim internet bisa belajar coding dan AI karena gurunya mampu memanfaatkan teknologi luring dengan cerdas.Guru Indonesia sudah siap melompat. Dari sekadar berdiri di depan kelas, menuju panggung dunia. Tugas pemerintah dan kita semua adalah memastikan mereka tidak melompat dengan tangan kosong.Mari kita pastikan, setiap layar menyala di kelas-kelas kita bukan hanya menjadi tontonan, tapi menjadi jendela menuju cerita sukses anak-anak Indonesia di masa depan.Raisa Ayu Rininta. ASN dan Mahasiswa FIA UI.Simak juga Video: Komisi X DPR Setuju Prabowo Minta Guru Tegas ke Siswa Kurang Ajar[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

33. Bagaimana pola pengembangan paragraf ke-1, ke-2, dan ke-3 pada teks tersebutTentukan Benar (T) atau Salah (S) untuk setiap pernyataan berikut!34. Percakapan:Dini: Teks tersebut sangat menarik dan bisa menambah wawasan kita, terutama jika kita berencana untuk mengembangkan suatu bisnis kecil.Rio: Iya, pilihan katanya juga sangat mudah dimengerti sehingga orang yang awam terhadap istilah di bidang ekonomi juga mudah memahami isi informasi yang disajikan.Sena: Aku sependapat dengan kalian berdua, tetapi rasanya teks tersebut akan lebih baik jika disertai data pertumbuhan UKM dalam kurun waktu lima tahun terakhir atau pendapat ahli di bidang ekonomi.Berdasarkan percakapan tersebut, mengapa pendapat Sena sangat baik dalam menilai keakuratan informasi yang disajikan?Tentukan Setuju atau Tidak Setuju untuk setiap alasan berdasarkan isi teks!Baca juga: 30 Soal PTS PAI Kelas 3 Semester 1 Kurikulum Merdeka dan Kunci Jawaban STS Pendidikan Agama IslamTeks untuk soal nomor 35-37!Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus hoyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau. Tak satupun barang tertinggal di rumah lama. Begitu juga dengan sahabatku, loami harus berpisahBertemu dengannya setelah sekian lama, mengingatkan kembali pada pengalaman kami dahulu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatan saya. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan saya yakin rasa yang dildapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripada saya. Tak terasa mata saya mulai berkaca-kacaSaat malam itu saya berada di sini, memperhatikannya belajar. Selesai belajar, dia menyuruh saya pulang karena hendak pergi mencari jangkrik. Saya langsung menyatakan ingin ikut, tapi dia keberatan. Ayah dan ibunya pun melarang. Saya sering mendengar cerita mengasyikan anak-anak beramai-ramai berangkat ke sawah selepas iaya untuk mencari jangkrik. Sayang, Ayah tidak pernah membolehkan saya. Tapi malam itu saya nekat dan sahabat saya itu akhirnya tidak kuasa menolak. Tidak ganti baju? tanya saya heran begitu dia langsung memimpin untuk berangkat. Itu hari Jumat, Seragam coklat Pramuka yang dikenakannya sejak pagi masih akan terpakai untuk bersekolah sehari lagi. Dia memang tidak memiliki banyak pakaian hingga seragam sekolah biasa dipakai kapan saja. Tapi memakainya untuk pergi ke sawah mencari jangkrik, rasапуа sangat tidak elokSaya mengambil alih obor dari tangannya. Rasanya belum terlalu lama kami berada di sana dan bumbung baru terisi beberapa ekor jangkrik ketika tiba-tiba angin berubah perangai. Kaget, pantat obor itu justru saya angkat tinggi-tinggi sehingga minyak mendorong sumbunya terlepas. Api dengan cepat berpindah membakar punggung saya! Terdengar teriakannya sembari melepaskan seragam coldatnya untuk dipakai menyabet punggung saya. Baju yang saya kenakan habis sepertiganya. Sahabat saya itu tanggap melingkupi tubuh saya dengan seragam coklatnya melihat saya mulai menangis dan menggigil antara kesakitan dan kedinginan Sadar saya membutuhkan pertolongan secepatnya, dia menggendong saya lalu berlari sembari membujuk-bujuk saya untuk tetap tenang. Napasnya memburu kelelahan, tapi rasa tanggung jawab yang besar seperti memberinya kekuatan berlipat untuk tetap bersama saya. (Kutipan Cerpen Seragam karya Aris Kurniawan Basuki dengan penyestialan)35. Kalimat:“Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau.”Penggunaan kata boyongan memperjelas peristiwa yang dialami tokoh “saya”, yaitu …Baca juga: 50 Soal UKPPPG 2025 Guru SD dan Kunci Jawaban Uji Kompetensi PPG sebagai Bahan Latihan36. Peristiwa apa yang mungkin akan terjadi kepada sahabatnya jika tokoh saya tidak ikut mencari jangkrik malam itu? Tentukan Tepat atau Tidak Tepat untuk setiap pertanyaan berikut!37. Kalimat mana saja dari dalam kutipan cerpen tersebut yang membuktikan karakter sahabat tokoh saya merupakan seorang yang setia kawan?Pilihlah jawaban yang benar!  Jawaban benar lebih dari satu. 

| 2026-02-03 06:00