3.395 Petugas Kebersihan Jakarta Disiagakan Antisipasi Lonjakan Sampah Saat Perayaan Tahun Baru 2026

2026-01-15 10:31:57
3.395 Petugas Kebersihan Jakarta Disiagakan Antisipasi Lonjakan Sampah Saat Perayaan Tahun Baru 2026
Jakarta - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengerahkan sebanyak 3.395 anggota kebersihan untuk mengantisipasi lonjakan sampah saat perayaan pergantian malam tahun baru 2026. Opsi ini dipilih sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kestabilan lingkungan agar sampah cepat ditangani, dan keesokan harinya Jakarta kembali bersih, sehingga masyarakat dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, para petugas kebersihan akan ditempatkan pada lokasi-lokasi strategis.Advertisement"Sebanyak 2.300 petugas kami siagakan di kawasan strategis seperti Monas, Bundaran HI, dan sepanjang koridor MH Thamrin-Sudirman," ujar Asep dilansir Liputan6.com dari laman resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta www.lingkunganhidup.jakarta.go.id, Selasa ."Sementara 1.095 petugas lainnya disebar di lima wilayah administrasi Jakarta dan Kepulauan Seribu. Kita memfasilitasi warga, namun dengan tetap menjaga empati dan solidaritas," sambung dia.Ia memprakirakan timbulan sampah pada malam tahun baru akan menurun dibandingkan tahun lalu.Penurunan ini, kata Asep, dipengaruhi oleh kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang melarang adanya pesta kembang api kepada para instansi. Perayaan akan diganti oleh atraksi drone serta doa bersama dan penggalangan dana."Untuk mengoptimalkan kegiatan ini, DLH DKI Jakarta telah menyiapkan 17 unit mobil lintas, 43 truk pengangkut sampah tipe typer, serta 29 unit road sweeper, 24 unit bus toilet, 135 dust bin, 3.395 kantong plastik, dan 3.395 sapu lidi pada titik ramai pengunjung," papar Asep.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-15 09:38