Kondisi Terkini 15 Korban Luka Kecelakaan Maut di Tol Cipali Km 72

2026-01-13 05:46:50
Kondisi Terkini 15 Korban Luka Kecelakaan Maut di Tol Cipali Km 72
Sebanyak 15 korban luka akibat kecelakaan maut di Km 72 Tol Cipali, Kabupaten Purwakarta masih menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS) Abdul Radjak Purwakarta. Kondisi 15 korban berangsur membaik."Yang dirawat di kami ada 15 orang. Tiga pasien kemarin menjalani operasi, sementara tiga lainnya masih kami observasi ketat di ruang intensif," ujar Kepala IGD RS Abdul Radjak Purwakarta Minaldi Nurgono dilansir detikJabar, Rabu .Minaldi menyebutkan, dari 15 orang itu, tiga di antaranya mengalami luka berat seperti benturan kepala dan patah tulang. Ketiganya sudah menjalani operasi namun masih dalam pemantauan, karena kondisinya belum sepenuhnya sadar."Semua sudah mendapat penanganan. Ada yang sudah pulang ke rumah masing-masing, tapi ada juga yang perlu observasi lanjutan. Untuk sadar penuh, belum. Namun respons mereka terhadap terapi sudah mulai terlihat dan kami terus melakukan observasi ketat," katanya.Dari total 38 korban yang dibawa ke RS Abdul Radjak, lima di antaranya meninggal di lokasi kejadian, tiga luka berat dan selebihnya luka ringan.Kasat Lantas Polres Purwakarta AKP Muthia Khansa Nurwajiya menyatakan masih melakukan penyelidikan, termasuk memeriksa para korban selamat, kendaraan, serta rekaman CCTV di titik kejadian. Ia juga akan menerjunkan tim pemeriksa kendaraan"Sekarang akan ada pemeriksaan kendaraan dari APM dan Dishub," ucap Muthia.Baca berita selengkapnya di sini. Tonton juga video "Sapi-sapi Bertebaran di Tol Japek, Bikin Macet Jalan"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Lainnya

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-13 03:59