JAKARTA, — Di balik garis-garis tebal yang menempel di tembok-tembok abu-abu ibu kota, geliat kreativitas anak muda ternyata tidak pernah padam.Jakarta seolah menjadi panggung besar bagi ribuan pesan visual yang hidup, hilang, atau kerap disalahpahami. Grafiti menjadi medium bagi sebagian anak muda untuk mengekspresikan identitas dan keresahan, meski kerap dicap sebagai tindakan merusak kota.Salah satu dari mereka adalah Haikal Nugroho (27), seniman grafiti yang tinggal di Jakarta Timur.Senin siang , ia bercerita melalui sambungan telepon tentang bagaimana kecintaannya pada grafiti membentuk perjalanan hidupnya sebagai seniman jalanan.Baca juga: Grafiti Liar di Ruang Publik, Ekspresi Seni atau Merusak?Haikal mengatakan, ia pertama kali mengenal grafiti saat duduk di bangku SMP. Saat itu, ia kerap melihat gambar-gambar di internet serta coretan di tembok kota yang kemudian membuatnya tertarik mencoba."Dari situ saya mulai coba-coba gambar pakai spidol di buku, terus naik level ke tembok kosong di sekitar rumah, rasanya seru banget bisa menuangkan ide secara bebas di ruang publik,” ujar Haikal.Seiring waktu, coretan iseng itu berubah menjadi karya yang lebih terarah. Ia kemudian mengenal komunitas street art, belajar teknik spraying, hingga menemukan gaya visual khasnya.“Iya, saya gabung sama teman-teman satu circle dari Jakarta Timur. Bukan komunitas resmi sih, tapi kami sering kumpul buat sharing teknik, cat warna, dan rencana mural,” katanya.Namun di jalanan, semuanya harus dikerjakan cepat. Tak ada ruang untuk kesalahan—bahkan untuk sekadar memotret hasil karya—karena setiap waktu petugas patroli bisa melintas.Grafiti memiliki reputasi buruk di mata sebagian warga. Coretan nama geng, kalimat tidak pantas, hingga bombardir warna di pintu toko menjadi alasan keluhan masyarakat. Haikal memahami hal itu.Baca juga: Jejak Grafiti di Jakarta, Antara Mural Estetik dan Coretan Liar“Kalau tempatnya salah, orang lihatnya bisa negatif dan dianggap vandal,” ujarnya.Baginya, lokasi menjadi faktor penentu apakah sebuah karya dianggap seni atau sekadar sampah visual.“Kalau kita dapat izin pemilik bangunan atau ruangnya memang untuk mural, itu seni. Tapi kalau coret tembok rumah orang atau fasilitas umum yang baru dicat, itu vandal namanya,” tutur dia.Menurut Haikal, ruang legal untuk berekspresi masih sangat minim.“Jangan hanya ditertibkan tapi enggak ada wadah. Kalau ada banyak tembok legal, festival mural, saya yakin grafiti liar juga bisa berkurang.”Berbeda dengan para seniman, warga yang menjadi “korban” grafiti liar merasakan dampak langsungnya.Kompas.com menemui Tedi (45), pemilik ruko di Jalan Kramat, Senen, Jakarta Pusat. Rolling door dan dinding samping tokonya penuh coretan tebal hitam, padahal baru dicat ulang sebulan lalu.
(prf/ega)
Wajah Ganda Grafiti Jakarta: Antara Ekspresi Anak Muda dan Vandalisme
2026-01-12 18:44:27
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 19:10
| 2026-01-12 17:35
| 2026-01-12 16:51
| 2026-01-12 16:47










































