Kecelakaan Terjun Payung di Pangandaran: 2 Atlet Meninggal, 3 Selamat

2026-01-15 09:08:32
Kecelakaan Terjun Payung di Pangandaran: 2 Atlet Meninggal, 3 Selamat
PANGANDARAN, - Lima atlet terjun payung mengalami kecelakaan saat melakukan terjun payung di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa .Insiden ini dipicu perubahan angin pada ketinggian 10.000 feet.Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.40 WIB. Tiga penerjun berhasil melakukan pendaratan darurat.Sementara, dua penerjun lainnya jatuh ke Perairan Bojongsalawe, Desa Karangjaladri, Kecamatan Parigi. Keduanya dinyatakan meninggal dunia.Baca juga: Pesawat Charter Tidak Terjadwal Milik Wise Air yang Mendarat Darurat di Karawang Hendak Ikut Terjun Payung di Cirebon"Dua atlet terjun payung meninggal dunia, tiga atlet lainnya berhasil selamat," kata Kapolres Pangandaran AKBP Andri Kurniawan melalui keterangan tertulis dari Humas Polres, Selasa.Andri Kurniawan menjelaskan, sebelumnya, para atlet terbang menggunakan pesawat latih Cessna 185 PK-SRC milik Fly School Ganesha.Mereka lepas landas dari Bandara Nusawiru, Kabupaten Pangandaran sekitar pukul 10.15 WIB.Andri menjelaskan, pada ketinggian kurang lebih 10.000 feet, terjadi perubahan arah angin yang cukup signifikan.Hal ini menyebabkan para penerjun kehilangan kendali dan arah pendaratan."Tiga atlet berhasil mendarat darurat di Pantai Bojongsalawe dalam kondisi selamat, sementara dua atlet lainnya jatuh ke perairan laut," ujar Andri.Baca juga: Sosok Prajurit Marinir Zaenal yang Gugur Usai Insiden Latihan Terjun Payung HUT ke-80 TNI di Teluk JakartaKorban meninggal dunia diketahui atas nama Rusli dan Widiasih. Keduanya atlet terjun payung asal Kabupaten Bandung.Sementara, korban selamat, masing-masing adalah Khudlori, Muhammad Almuthofa, dan Karni.Kini, ketiganya telah mendapatkan penanganan medis.Polres Pangandaran telah menghentikan sementara kegiatan terjun payung tersebut untuk kepentingan penyelidikan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-15 08:25