Cara Dapat Diskon Token Listrik PLN di Shopee, Tokopedia, dan Gojek

2026-02-05 16:41:50
Cara Dapat Diskon Token Listrik PLN di Shopee, Tokopedia, dan Gojek
- Kebutuhan token listrik kerap meningkat, terutama menjelang akhir tahun atau momen libur panjang.Untuk membantu menghemat pengeluaran, sejumlah platform digital menyediakan berbagai promo dan diskon pembelian token listrik yang bisa dimanfaatkan masyarakat.Diskon ini hadir dalam beragam bentuk, mulai dari potongan harga langsung, voucher, hingga cashback.Beberapa aplikasi yang sering menawarkan promo token listrik antara lain Shopee, Tokopedia, dan Gojek melalui GoPay.Melalui fitur pembayaran tagihan atau top up yang tersedia di masing-masing platform, pengguna dapat membeli token listrik dengan harga lebih hemat asalkan memenuhi syarat promo yang berlaku.Berikut cara mendapatkan diskon token listrik di Shopee, Tokopedia, dan Gojek yang perlu diketahui.Baca juga: Promo Token Listrik 25 Desember 2025, Token Rp 50.000 Hanya Bayar Rp 40.000Dilansir dari Kompas.com, Kamis , Shopee secara rutin memberikan promo token listrik dengan menyediakan beragam voucher.Ini voucher token listrik yang berlaku hari ini, 25 Desember 2025:Diskon Rp 1.500Diskon Rp 2.500Diskon Rp 3.000Cashback 100%Cara mendapatkan diskon token listrik di Shopee:Baca juga: 4 Alat Elektronik Paling Boros Listrik, Salah Satunya Ada di Tiap RuanganTokopedia sering menggelar promo diskon token listrik. Anda harus mengeceknya secara rutin setiap hari, begini caranya:Sebagai contoh, saat memasukkan nominal Rp 20.000 pada hari ini, klik "Bayar" dan pilih "Pakai Promo Biar Makin Hemat", maka akan muncul pilihan:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 16:05