Inflasi Jakarta Oktober 2025 Lebih Tinggi dari Nasional, Ini Komoditas Penyumbangnya

2026-01-12 09:56:55
Inflasi Jakarta Oktober 2025 Lebih Tinggi dari Nasional, Ini Komoditas Penyumbangnya
JAKARTA, - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat tingkat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) pada Oktober 2025 sebesar 0,31 persen.Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang tercatat 0,28 persen pada periode yang sama.Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanudin, menjelaskan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi Jakarta pada Oktober 2025 dengan andil 0,18 persen.Baca juga: Pendaftaran Kartu Gratis Lansia Diusulkan Dialihkan ke Kelurahan: Biar Lebih Manusiawi“Inflasi Oktober tercatat sebesar 0,31 persen, ini lebih besar jika kita bandingkan dengan inflasi nasional sebesar 0,28 persen,” kata Hasanudin dalam Rilis Berita Resmi Statistik DKI Jakarta Oktober 2025 di Jakarta, Senin dikutip dari Antara.Hasanudin menambahkan, secara historis, emas perhiasan telah mengalami inflasi sembilan kali pada 2023, sebelas kali pada 2024, dan terus mengalami inflasi selama sepuluh bulan berturut-turut di tahun 2025.“Sejak September 2023, komoditas emas perhiasan terus mengalami inflasi hingga Oktober 2025, kecuali pada September 2024,” ujarnya.Baca juga: Raup Cuan Jutaan dengan Modal Polaroid di Konser BLACKPINKSelain emas, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau turut berperan dalam inflasi Jakarta.Pada Oktober 2025, kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,33 persen dengan andil 0,07 persen terhadap inflasi umum.Beberapa komoditas lain yang memberikan kontribusi terhadap inflasi bulanan Jakarta di antaranya cabai merah (andil 0,05 persen), tarif angkutan udara (0,04 persen), biaya akademi/perguruan tinggi (0,02 persen), dan telur ayam ras (0,02 persen).Baca juga: Naik KRL Kini Bisa Pakai QRIS Tap, Simak CaranyaBerdasarkan data BPS, inflasi tahun kalender (year to date/ytd) Jakarta pada Oktober 2025 terhadap Desember 2024 tercatat sebesar 2,02 persen.Sementara secara tahunan (year on year/y-on-y), seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi kecuali dua kelompok, yakni informasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta kelompok transportasi.“Seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi secara y-on-y pada Oktober 2025, kecuali kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan serta kelompok transportasi,” jelas Hasanudin.“Dua kelompok tersebut memberikan andil deflasi masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,01 persen, dengan komoditas utama penyumbang deflasi antara lain tarif angkutan udara, tarif kereta api, dan telepon seluler,” imbuhnya.


(prf/ega)