Daftar Mutasi Polri Terbaru di Polda Babel, Ada Wakapolda

2026-02-02 16:58:21
Daftar Mutasi Polri Terbaru di Polda Babel, Ada Wakapolda
BANGKA, - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali melakukan rotasi dan mutasi jabatan, termasuk di lingkungan Polda Bangka Belitung.Hal itu tertuang dalam surat telegram Kapolri perihal mutasi Pati dan Pamen Polri yang ditandatangani atas nama Kapolri, As SDM Polri Irjen Pol Anwar.Dalam mutasi ini, tercatat sebanyak sepuluh pejabat utama Polda Babel yang mengalami pergeseran.Mereka di antaranya Wakapolda Babel, Karo SDM, Dir Reskrimsus, Dir Narkoba, Dir Pam Obvit, Dir Polairud, Kabid TIK, Kabid Propam, Kabid Humas, dan Kabid Keuangan Polda Babel.Kabid Humas Polda Babel Kombes Fauzan Sukmawansyah mengonfirmasi adanya telegram rotasi dan mutasi dari Mabes Polri."Benar ada mutasi Polri, termasuk di lingkungan kita Polda Babel ada sepuluh PJU, termasuk Pak Wakapolda Brigjen Tony Harsono dan saya sendiri selaku Kabid Humas Polda juga menempati posisi yang baru," kata Fauzan pada awak media, Sabtu .Baca juga: Mutasi Polda Babel: Bongkar 32 Ton Timah Ilegal, Kombes Jojo Sutarjo Dipindah ke Dirnarkoba BengkuluSelain beberapa pejabat utama Polda Babel, sejumlah perwira menengah (pamen) di lingkungan Polda Babel turut mendapatkan promosi jabatan."Mutasi Polri ini merupakan hal yang wajar dalam organisasi Polri. Selain sebagai bentuk pembinaan karier, ini juga dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme serta optimalisasi pelayanan kepada masyarakat," ujar Fauzan.Berikut jajaran yang terkena mutasi:Brigjen Pol Tony Harsono diangkat dalam jabatan baru sebagai Auditor Kepolisian Utama TK I Itwasum Polri.Selanjutnya, digantikan oleh Kombes Pol Murry Mirranda yang sebelumnya menjabat sebagai Irwasda Polda NTT.Kombes Pol Ariefaldi Warganegara diangkat dalam jabatan baru sebagai Karo SDM Polda Lampung.Selanjutnya, digantikan Kombes Rimsyahtono yang sebelumnya menjabat sebagai Dir Reskrimsus Polda Kalteng.Kombes Jojo Sutarjo diangkat dalam jabatan baru sebagai Dir Resnarkoba Polda Bengkulu.Selanjutnya, diisi oleh Kombes Pol Nanang Haryono yang menjabat sebagai Kapolresta Malang.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 17:36