Pemerintah Bakal Revisi Perpres Penanggulangan TBC, Libatkan TNI-Polri

2026-01-16 11:30:51
Pemerintah Bakal Revisi Perpres Penanggulangan TBC, Libatkan TNI-Polri
Jakarta - Pemerintah sedang menyusun Peraturan Presiden (Perpres) yang baru untuk merevisi Perpres Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis (TBC).Wakil Menteri Kesehatan atau Wamenkes RI, Benjamin Paulus Octavianus menyatakan, dalam revisi tersebut jumlah lembaga yang terlibat dalam penanggulangan TBC bakal bertambah, termasuk keterlibatan TNI-Polri.“Saat ini kita akan sedang dibentuk Perpres baru untuk revisi Perpres, Pak Gubernur. Revisi Perpres 67 tahun 2021 akan diubah karena tadinya melibatkan 15 kementerian akan menjadi 35 kementerian dan badan termasuk TNI, Polri,” kata Benjamin usai audiensi dengan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis .AdvertisementMenurut Benjamin, pelibatan lembaga lain seperti TNI-Polri dimaksudkan karena pemberantasan TBC tidak hanya berkaitan dengan sektor medis, namun juga hal lain yang ada di dalam kehidupan keseharian pasien.“Karena pemberantasan TBC bukan hanya segera mengobati pasien yang sakit,” ucap dia. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-16 10:06