Sebulan Berlalu, Penyelidikan Kasus Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Belum Ada Titik Terang

2026-01-16 06:12:12
Sebulan Berlalu, Penyelidikan Kasus Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Belum Ada Titik Terang
SURABAYA, - Sudah satu bulan lebih berlalu, penyelidikan kasus ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur belum berujung penetapan tersangka.Bangunan tiga lantai yang digunakan sebagai mushala di asrama putra Ponpes Al Khoziny Sidoarjo ambruk pada Senin saat santri melaksanakan salat Ashar.Akibatnya, sebanyak 63 orang ditemukan meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Kasus tersebut, tengah ditangani oleh tim gabungan Ditreskrimum dan Ditreskrimsus Polda Jatim.Baca juga: Sudah Tiga Pekan, Polda Jatim Belum Tetapkan Tersangka Kasus Mushala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo AmbrukHingga hari ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyidikan dan pemeriksaan saksi. Namun, belum ada penetapan tersangka.“Nanti kita sampaikan. Saat ini belum bisa kita sampaikan,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes  Jules Abraham Abast pada Rabu .Jules juga enggan berkomentar banyak soal berapa saksi yang sudah diperiksa. Tetapi proses tersebut masih berlangsung.“Pemeriksaan saksinya masih berjalan, nanti kita sampaikan untuk kegiatan berikutnya,” pungkasnya.Sebelumnya, Polda Jatim menyebut bahwa ada 17 saksi yang akan diperiksa. Tidak disebutkan saksi tersebut dari pihak mana saja.Baca juga: Tragedi Al Khoziny Jangan Terulang, Bupati Pamekasan: Ponpes Harus Terbuka Laporkan Gedung RapuhRobohnya bangunan tiga lantai mushala Ponpes Al Khoziny yang terletak di Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, terjadi pada Senin sore.Berdasarkan analisis tim gabungan, penyebab ambruknya bangunan tersebut dikarenakan kegagalan konstruksi dimana akibat ketidakmampuan menahan beban dari kapasitas seharusnya.Tragedi tersebut telah menelan 63 korban jiwa dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Kini, tragedi tersebut masih dalam tahap penyidikan kepolisian di Polda Jawa Timur.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 04:34