Sutradara Rob Reiner Ditemukan Tewas dengan Luka Tusukan di Rumahnya

2026-01-30 07:55:58
Sutradara Rob Reiner Ditemukan Tewas dengan Luka Tusukan di Rumahnya
- Rob Reiner, aktor komedi legendaris sekaligus sutradara di balik film-film ikonik seperti When Harry Met Sally…, ditemukan meninggal dunia pada Minggu sore di rumahnya di Brentwood, AS, bersama sang istri, Michele Singer.Rob Reiner wafat dalam usia 78 tahun.Menurut pihak kepolisian Los Angeles (LAPD), kematian pasangan tersebut sedang diselidiki sebagai kasus pembunuhan.Baca juga: Dua Orang Ditemukan Tewas di Rumah Sutradara Rob ReinerKeduanya dilaporkan tewas akibat luka tusukan, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu tragedi paling mengejutkan di Hollywood tahun ini.“Dengan duka yang mendalam kami mengumumkan kepergian tragis Michele dan Rob Reiner. Kami sangat terpukul atas kehilangan mendadak ini, dan kami memohon privasi di masa yang sangat sulit ini,” demikian pernyataan resmi keluarga.Putra dari sosok legendaris Carl Reiner, Rob Reiner memulai kariernya sebagai aktor lewat peran Michael “Meathead” Stivic dalam sitkom berpengaruh All in the Family.Baca juga: Profil Alan Yu, Aktor Populer China yang Ditemukan Meninggal DuniaPerannya sebagai menantu progresif dari karakter Archie Bunker mengantarkannya meraih dua Piala Emmy pada 1974 dan 1978.Reiner kemudian menjelma menjadi salah satu sutradara paling berpengaruh di Hollywood.Debut penyutradaraannya lewat This Is Spinal Tap (1984) langsung mencuri perhatian lewat format mockumentary yang segar dan berani.Kesuksesan tersebut berlanjut dengan deretan film lintas genre yang kini berstatus klasik.\Baca juga: YouTuber Na Dong Hyun Ditemukan Meninggal di Rumahnya, Polisi: Tidak Ada Tanda KekerasanDalam kurun waktu satu dekade, ia menyutradarai Stand By Me, The Princess Bride, When Harry Met Sally…, Misery, dan A Few Good Men, membuktikan kemampuannya meramu drama, romansa, fantasi, hingga thriller dengan presisi emosional yang kuat.Film terakhir Reiner adalah Spinal Tap II: The End Continues, sekuel dari karya ikoniknya yang dirilis empat dekade lalu.Kepergiannya meninggalkan warisan sinematik yang tak tergantikan dan akan terus dikenang lintas generasi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-30 06:44