Cerita Karsono Angkat 10 Jenazah Korban Longsor Cibeunying Cilacap: Mendermakan Diri itu Ibadah...

2026-01-13 14:20:51
Cerita Karsono Angkat 10 Jenazah Korban Longsor Cibeunying Cilacap: Mendermakan Diri itu Ibadah...
CILACAP, - Proses pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, melibatkan sosok penting, Karsono (40), yang merupakan anggota bela diri Merpati Putih.Sejak operasi pencarian dimulai, Karsono telah berhasil mengevakuasi 10 jenazah.Karsono tiba di lokasi longsor pada Jumat dini hari, hanya beberapa jam setelah bencana terjadi.Ia menempuh perjalanan dari rumahnya di Desa Kedungurang, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB."Jam 03.00 saya sampai, istirahat sebentar, pagi apel menunggu arahan Basarnas, lalu langsung action," ujarnya di lokasi, Rabu .Baca juga: Gubernur Luthfi Siapkan Relokasi Korban Longsor Cilacap 3,5 Hektare dan Banjarnegara 2,5 HektareDalam proses evakuasi pada hari pertama, Karsono berhasil membantu menemukan satu korban.Namun, pencarian mencapai puncaknya pada hari kedua dan ketiga."Hari Sabtu itu maksimal. Di atas dapat tiga, hari Minggu dapat empat lagi," jelasnya.Karsono, yang telah terjun dalam operasi kemanusiaan sejak tahun 1994, mengungkapkan motivasinya berasal dari pesan orang tuanya."Orang tua saya bilang, ibadah itu bukan hanya shalat. Kamu dermakan diri untuk membantu sesama, itu juga ibadah. Dari situ saya langsung gas sampai sekarang," tuturnya.Sejak itu, ia aktif terlibat dalam berbagai operasi kemanusiaan, mulai dari tsunami Aceh hingga gempa Palu, dan memperkirakan telah mengevakuasi lebih dari 500 jenazah selama menjadi relawan.Motivasi awal Karsono untuk menjadi relawan muncul ketika musibah tanah longsor terjadi di kampung halamannya.Baca juga: Pencarian Korban Longsor Cilacap Masuk Hari Kedelapan, Tiga Orang Masih Hilang"Dulu ada musibah di kampung halaman. Orang panik semua, tidak ada yang evakuasi. Saya terkejut, harus bisa, harus berani," kenangnya.Ia pun belajar menghadapi kondisi ekstrem, termasuk menangani jenazah dalam keadaan mengenaskan.Pencarian korban longsor di Cibeunying memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. "Survivor itu rata-rata kesangkut reruntuhan dan puing-puing, baik besi maupun kayu rumah. Kita harus teliti, sabar, dan mentalnya kuat," ungkap Karsono.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-13 12:21