NAMA Amanda Ripley barangkali tidak begitu akrab di pendengaran banyak guru di Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul The Smartest Kids in the World, ia memberikan pandangan reflektif penting untuk bangsa ini bahwa apa yang kita sebut sebagai kecerdasan kolektif tidak pernah lahir dari kurikulum yang njlimet dan rumit, tetapi dari kesungguhan kolektif untuk belajar secara bermakna.Amanda Ripley mula-mula menelusuri kisah pelajar dari Amerika yang belajar di Finlandia, Korea Selatan, dan Polandia. Ripley kemudian menemukan titik temu bahwa guru diperlakukan sebagai arsitektur utama pendidikan, bukan sebatas pelaksana kebijakan. Di tiga negara tersebut, guru adalah profesi bergengsi dengan seleksi tinggi dengan penghormatan sosial tinggi. Dampaknya, pendidikan menjadi aksi kebudayaan, bukan sebatas urusan administratif belaka.Bagaimana jika Amanda Ripley mengajar di Indonesia?Barangkali Ripley akan terkejut mendapati fakta bahwa ruang kelas dipenuhi puluhan murid, papan tulis tak layak pakai, dan guru-guru sukarela menempuh puluhan kilometer setiap hari untuk mengajar. Satu contoh nyata misalnya di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, guru SD Inpres 5/81 Tapong, setiap hari harus menempuh rute panjang hingga 57 km melewati tebing, hutan pinus, dan jembatan gantung rapuh demi mengajar.Kendati demikian, Ripley juga akan menemukan ketulusan dan dedikasi luar biasa tangguh di tengah keterbatasan-keterbatasan itu. Di sinilah letak denyut pendidikan sejati Indonesia berdetak, yakni pada spirit individu, bukan spirit sistem.Sayangnya, spirit itu kerap kali tak seimbang dengan aturan dan kebijakan yang ada. Guru kita sejak dulu masih dibebankan bobot administratif yang berlapis, dibatasi oleh standar ujian, dan terkadang dipaksa mengikuti pelatihan yang tak relevan dan sekedar seremonial belaka. Seolah kredibilitas dan integritas manusia bisa digantikan oleh sistem dan format yang dibakukan.Jika Ripley menulis bab tersendiri untuk pendidikan Indonesia, mungkin judulnya berbunyi “Bagaimana sistem yang baik kehilangan jiwanya karena lupa mendengarkan guru”.Baca juga: Guru Honorer: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Tanpa Pengakuan NegaraBicara pendidikan, kita sering mengagumi Finlandia sekaligus ingin menirunya. Tetapi kita abai bahwa kesuksesan pendidikan mereka dibangun di atas landasan sosial yang tinggi dan dengan pemberian otonomi profesionalitas guru seluas-luasnya. Dalam konteks ini, kita meniru bentuknya, bukan ruhnya.Sistem kita menghapus ujian nasional, tetapi tetap menilai murid dengan angka. Kita menggaungkan Program Merdeka Belajar, tetapi ragu memberi kebebasan seluas-luasnya pada guru untuk berekspresi dan bereksperimen. Di sinilah gagasan Ripley menjadi relevan dan sekaligus menjadi jelas bahwa untuk menciptakan sistem pendidikan yang maju dan unggul tidaklah dengan meniru, melainkan menumbuhkan.Dan pertumbuhan sangat memungkinkan terjadi ketika guru tidak disibukkan dengan tugas tambahan seperti operator kebijakan, melainkan menjadi creator utama masa depan bangsa.Ripley menunjukkan bahwa pendidikan yang unggul dan berdaya saing bukan dibangun di gedung-gedung kementerian, tetapi di ruang-ruang kelas yang memberikan kepercayaan pada guru mengambil keputusan terbaik untuk muridnya.Pendidikan sejatinya tak sebatas mencerdaskan individu, tetapi juga bagaimana menghaluskan peradaban. Tetapi di Indonesia, pendidikan seringkali kehilangan efek sosialnya. Data dari Survei Katadata Insight Center menunjukkan bahwa 73 persen tayangan hiburan layar televisi Indonesia tidak mengandung unsur edukatif.Tontonan publik kita belum menjadi ruang edukatif bersama, melainkan ruang perdebatan yang cenderung tak sehat. Sebab itu, pendidikan hanya melahirkan generasi yang kuat hafalan tetapi tak pandai berdialog. Siswa-siswa sangat cerdas menjawab soal-soal, tetapi tidak terbiasa kritis. Padahal seperti dikatakan Amanda Ripley, murid yang cerdas bukanlah mereka yang mendapat nilai tinggi, tetapi mereka yang berani mempertanyakan dunia di sekelilingnya.Pendidikan kita terlampau sibuk mengejar kecerdasan kognitif, sementara aspek dan dimensi karakter, empati, dan daya kritis tertinggal jauh. Di sinilah pendidikan kehilangan maknanya sebagai proses memanusiakan manusia.Baca juga: Guru Luwu Utara: Teman-teman Dihantui, Salah Sedikit, Selalu Ada Hukuman Tak PantasJika Amanda Ripley benar-benar mengajar di Indonesia, mungkin ia tidak akan memulai dengan mengubah kurikulum. Ia akan mulai dengan mendengarkan para guru yang sabar, para murid yang berjuang, dan para orang tua yang resah dengan masa depan anaknya. Dari mendengarkan itulah pendidikan tumbuh menjadi ruang empati, bukan sekadar sistem produksi nilai.Ia mungkin akan menulis bahwa bangsa ini tidak kekurangan ide, hanya kekurangan keberanian untuk mempercayai gurunya sendiri. Sampai di sini kita perlu stop sejenak dengan memperlakukan pendidikan sebagai proyek reformasi tanpa arah. Pendidikan bukan tentang kebijakan terbaru ataupun rotasi kebijakan dan sistem terus menerus, tetapi tentang bagaimana memberikan ruang untuk manusia yang mau berpikir dan tumbuh bersama.Ripley mengingatkan kita bahwa sekolah terbaik bukan yang paling modern dan canggih, tetapi sekolah yang paling jujur terhadap tujuan mendidik, menumbuhkan manusia yang utuh, yang mencintai belajar, dan percaya pada kemampuan dirinya.Andai Amanda Ripley mengajar di Indonesia, mungkin ia akan menulis dengan rasa kagum dan frustasi yang sama. Kagum pada ketulusan para guru di desa seperti di Bone Sulawesi Selatan yang mendaki tebing demi literasi anak-anaknya, dan frustasi pada sistem yang sering lupa bahwa mereka adalah inti dari perubahan.Namun, sebelum meninggalkan negeri ini, barangkali ia akan menulis satu kalimat yang menohok tapi jujur: “Indonesia tak kekurangan cahaya, hanya terlalu sering menutup jendela.” Dan kalimat itu cukup menjadi peringatan bahwa bangsa cerdas tidak lahir dari kebijakan yang megah, melainkan dari keberanian sederhana untuk mempercayai manusia yang mengajar di ruang-ruang kecil penuh harapan itu.Baca juga: Pemerintah Didesak Introspeksi soal Kesejahteraan Guru Honorer
(prf/ega)
Andai Amanda Ripley Mengajar di Indonesia
2026-01-12 06:45:24
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:25
| 2026-01-12 06:54
| 2026-01-12 05:52
| 2026-01-12 04:58










































