Profesor Arkeologi Bantah Fadli Zon soal Out Of Nusantara

2026-02-02 02:08:26
Profesor Arkeologi Bantah Fadli Zon soal Out Of Nusantara
JAKARTA, - Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Profesor Harry Truman Simanjuntak, membantah teori out of Nusantara yang dikemukakan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.“Manusia Nusantara ini datang dari luar semua. Tidak ada yang tumbuh di Nusantara karena evolusi datang dari Afrika sana,” kata Harry Truman Simanjuntak kepada Kompas.com, Rabu .Fadli Zon berteori bahwa persebaran manusia purba justru berasal dari wilayah Nusantara ke seluruh dunia, tidak seperti teori mapan selama ini bahwa migrasi manusia purba berasal dari Afrika.Menurut Harry Truman, tidak ada bukti-bukti yang mendukung teori out of Nusantara.“Teori out of Africa didukung oleh bukti-bukti berbagai disiplin dan tidak ada yang meragukan itu. Bukti evolusi, arkeologi, dan tampilan fisiologi semuanya mendukung teori out of Africa,” tanggap Harry.Baca juga: Fadli Zon Klaim Persebaran Manusia di Dunia Dimulai dari NusantaraDia membantah bukti yang dikemukakan Fadli Zon untuk mendukung teori out of Nusantara, yakni fosil Homo erectus dari Indonesia.Penemuan fosil Homo erectus tertua yakni yang berasal dari Sangiran dan Bumiayu berusia antara 1,5 juta sampai 1,6 juta tahun.Adapun fosil Homo erectus tertua di dunia yang barasal dari Afrika berusia 1,8 juta tahun. Jadi, fosil Homo erectus di Nusantara lebih muda ketimbang Homo erecrus Afrika.Lagi pula, ada jeda antara waktu kehidupan Homo erectus dengan Homo sapiens yang hidup di Indonesia. Wilayah yang sekarang disebut Indonesia ini dulu pernah kosong tanpa spesies manusia.“Sempat ada kekosongan hunian antara periode Homo erectus punah dan kedatangan Homo sapiens,” kata Harry.Baca juga: Arkeolog Profesor Harry Truman Keluar dari Tim Penulisan Ulang SejarahKata dia, Homo erectus dari Trinil, Ngandong, Sangiran, atau Bumiayu bukanlah nenek moyang dari Homo sapiens atau manusia modern Indonesia saat ini.“Homo erectus itu tidak menurunkan Homo sapiens seperti kita,” kata dia.Homo erectus masa itu punah terlebih dahulu meninggalkan kekosongan di Pulau Jawa yang mengalami perubahan dari padang rumput menjadi hutan hujan. Ada pula faktor bencana alam yang menyebabkan kekosongan hunian pada 80.000 tahun lalu itu.Sumber: Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Fosil Homo erectus temuan Eugene Dubois dikembalikan Belanda ke Indonesia. (Sumber: Menteri Kebudayaan Fadli Zon) Homo sapiens atau manusia modern baru ada di kawasan Nusantara pada 60.000 sampai 70.000 tahun lalu. Buktinya adalah penemuan fosil di Gua Lida Ajer, Sumatera Barat.Gua Lida Ajer juga dijadikan bukti oleh Fadli Zon untuk mendukung teori out of Nusantara. Namun Harry Truman mengatakan manusia Gua Lida Ajer itu juga pendatang, bukan asli Sumatera Barat.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-02-02 07:03