Cerita Para Guru Mengajar Bahasa Indonesia di Australia: Membawa Budaya ke Ruang Kelas

2026-01-12 19:02:58
Cerita Para Guru Mengajar Bahasa Indonesia di Australia: Membawa Budaya ke Ruang Kelas
- Pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia ternyata menyimpan banyak cerita. Bukan hanya belajar tentang kosakata, tapi tentang bagaimana bahasa dapat menjadi penghubung emosional bagi para murid.Dalam sesi diskusi panel First Australian Congress for Indonesian Language pada Sabtu , para pendidik membagikan pengalaman mereka dalam mengenalkan Bahasa Indonesia dengan cara yang tidak hanya mengajarkan “bisa”, tetapi juga mengajak murid untuk merasa dekat dengan budaya dan manusianya.Salah satu pembicara dalam diskusi tersebut, penulis dan dosen Helvy Tiana Rosiana mengingatkan bahwa bahasa tidak cukup diajarkan hanya secara teknis.“Bahasa itu bukan hanya soal bisa, tapi soal kedekatan emosional,” ujarnya. Bagi Helvy, murid akan lebih mudah terhubung ketika mereka merasakan cerita atau pengalaman yang hidup dalam bahasa tersebut.Baca juga: Bahasa Indonesia Masuk Kurikulum Australia, Kemendikdasmen Perkuat Diplomasi PendidikanSalah satu contoh pengajaran datang dari Mei Turnip, seorang guru Bahasa Indonesia di sekolah Australia. Alih-alih memulai kelas dengan daftar kosakata, ia menunjukkan foto Alba, orangutan albino yang diasingkan oleh kelompoknya di Kalimantan, tanpa penjelasan apapun.“Saya tanya, apa yang kamu lihat? Lalu apa yang kamu pikir? Apa yang kamu ingin tahu?” ceritanya.Mei menggunakan pendekatan sederhana yakni, “See, Think, Wonder” yang mengajak murid untuk mengamati, bertanya, dan membangun rasa ingin tahu. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, diskusi yang tentunya berlangsung dalam Bahasa Indonesia pun mengalir dengan natural.Topik-topik seperti ini terbukti membuat murid merasa lebih dekat dengan bahasa. Mereka tidak hanya sekadar menghafal kata-katar, tetapi juga memahami cerita dan merasakan makna di dalamnya.Baca juga: Sejarah Baru, Pertama Kalinya Kongres Nasional Bahasa Indonesia 2025 Digelar di AustraliaLebih lanjut, Mei menekankan pentingnya memulai pembelajaran dengan sesuatu yang dapat membuat murid merasa mampu.“Kalau mereka merasa berhasil, mereka akan bertahan,” jelasnya.Ia mengajarkan high-frequency words dan frasa pendek yang langsung bisa digunakan murid dalam interaksi sederhana, seperti bertanya, meminta izin, atau menanggapi teman. Cara ini tidak hanya membangun rasa percaya diri pada murid, tetapi juga menciptakan perasaan positif terhadap Bahasa Indonesia sejak awal.Menurut Mei, kedekatan emosional muncul ketika murid merasa bahwa bahasa tersebut benar-benar “hidup” dan dapat digunakan dalam kehidupan nyata, bukan sekadar di atas kertas.Dok. / Ayunda Pininta Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq menghadiri First Australian Congress for Indonesian Language 2025 atau Kongres Australia Pertama untuk Bahasa Indonesia 2025 resmi digelar di Australian National University (ANU), Sabtu .


(prf/ega)