Jalan Kaki 7 Km Cuma Beli Sebotol Bensin, Korban Banjir Agam: Enggak Punya Uang

2026-01-11 15:17:55
Jalan Kaki 7 Km Cuma Beli Sebotol Bensin, Korban Banjir Agam: Enggak Punya Uang
AGAM, - Masra (48) terlihat meniti batang pohon besar. Di bawahnya, ada aliran sungai yang mengalir cukup deras. Tangannya menenteng kantong plastik bening dengan botol berisi air berwarna kebiruan.Pria berambut pendek dan berkumis cukup tebal itu mengenakan kemeja dan berjaket coklat. Ia berjalan cepat begitu selesai menyeberang jembatan meski kakinya harus menginjak lumpur bebatuan kecil."Saya beli bensin buat sepeda motor," kata Masra saat berbincang dengan Kompas.com di wilayah terdampak bencana banjir bandang Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Minggu .Kenaikan debit air di sungai akibat hujan deras sejak Sabtu sore membuat akses antara wilayah Jorong Koto Alam, Subarang Aia, dan Kampung Tengah Barat kembali terputus.Baca juga: Jembatan Darurat di Agam Hancur, Warga Menyeberang Pakai Batang PohonDua jembatan darurat yang sempat dibangun untuk akses masyarakat termasuk Masra, hancur diterjang debit air yang deras.Kondisi tersebut memuat dua kampung di Nagari Salareh Aia Timur yaitu Subarang Aia dan Kampung Tengah Barat semakin terisolasi. Dua kampung tersebut saat ini terpisah ladang lumpur bebatuan dan sungai dengan jarak sekitar 200 meter.Warga terpaksa harus berjalan kadang lurus dan kadang agak melambung untuk bisa mengakses jalan.Ada banyak titik lumpur-lumpur sedalam sekitar satu meter yang siap menjebak kaki.Kemudian, warga juga harus bergantian menyeberang sungai dengan meniti dua batang pohon besar yang licin dan berlumpur sepanjang 10-15 meter./WAHYU ADITYO PRODJO Kondisi sebagian permukiman warga di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada Jumat masih porak poranda. Sejumlah rumah di Jorong Subarang Aia bahkan hilang tersapu banjir bandang dan tertimbun lumpur.Bensin bagi Hendra ibarat penyelamat hidup saat bencana. Motornya ia gunakan semenjak bencana untuk mengambil bantuan untuk warga terdampak.Rumah Masra memang tak hancur, tapi ia tak bisa bekerja. Ladang sawah yang biasa ia garap, lenyap.Masra tinggal sekitar tujuh kilometer dari Pasar Koto Alam. Ia harus menuju Jorong Subarang Aia naik motornya dan meninggalkannya di ujung jalan yang terputus."Motor ditaruh di ujung. Saya beli bensin di Pasar Koto Alam," tambah dia.Baca juga: 3 Kecamatan dan 7 Nagari di Agam Masih Terisolir, Bantuan Dikirim lewat UdaraIa membeli sebotol bensin berisi sekitar satu liter dengan harga Rp 14.000. Di tangannya hanya menggenggam satu botol.Masra tak membeli beberapa botol bensin meskipun sudah tempuh jarak yang jauh dari rumahnya. Sebenarnya, ia bisa memegang setidaknya dua botol lagi di tangannya. 


(prf/ega)