Indonesia Rentan karena Bergantung ke Negara Lain, INDEF: Garam Pun Impor

2026-01-11 03:51:53
Indonesia Rentan karena Bergantung ke Negara Lain, INDEF: Garam Pun Impor
JAKARTA, - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai ekonomi Indonesia rentan terkena dampak gejolak geopolitik akibat tingginya ketergantungan impor.Peneliti INDEF Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan tarif impor Amerika Serikat memberi tekanan luas ke banyak negara. Sejumlah negara Asia Tenggara ikut terdampak. Singapura, Malaysia, dan Thailand dinilai lebih tahan karena fondasi ekonomi lebih kuat.Indonesia berada pada posisi berbeda. Esther menilai tingkat kerentanan lebih tinggi karena ketergantungan terhadap pasokan luar negeri masih besar.“Nah, kalau kita ini relatif rentan gitu ya, karena selain kerentanan itu tergantung dari fundamental ekonomi. Kenapa fundamental ekonomi kita itu relatif rentan? Ya, karena ketergantungan kita terhadap dunia luar ini tinggi gitu,” kata Esther pada Diskusi Publik Catatan Akhir Tahun INDEF: Liburan di Tengah Tekanan Fiskal, Senin .Baca juga: Indonesia Bidik Stop Impor Solar April 2026, RDMP Balikpapan Jadi KunciVolume impor tinggi membuat cadangan devisa cepat terpakai. Arus devisa keluar lebih besar dibandingkan akumulasi dari ekspor.INDEF menyoroti impor tidak terbatas pada barang modal. Produk pangan juga masih bergantung pada pasokan luar negeri.“Sampai garam pun itu kita impor gitu,” ujar Esther.Situasi tersebut membuat ekonomi domestik sensitif terhadap guncangan global. Ketika ekonomi dunia melambat, pertumbuhan nasional ikut tertahan.INDEF menilai pemerintah perlu mendorong perubahan arah kebijakan. Fokus utama mengarah pada penguatan kemandirian.“Artinya kemandirian pangan, kemandirian energi, kemandirian ekonomi ini harus menjadi tolok ukur keberhasilan kita,” tutur Esther.Baca juga: Bayar Bunga Utang Tembus Rp 500 T, Indef Ingatkan Risiko Jebakan FiskalFaktor lain datang dari minat investasi. Esther menilai kebijakan dan stimulus belum menjawab kebutuhan investor secara konkret.Investor membutuhkan kepastian infrastruktur dasar. Pasokan energi, air, dan konektivitas menjadi pertimbangan utama sebelum membangun pabrik.Sektor pariwisata juga menghadapi persoalan serupa. Akses transportasi dan koneksi penerbangan dinilai belum memadai untuk mendorong arus investasi.


(prf/ega)