Nasib Odong-odong di Muara Angke, Mikrotrans Disebut Lebih Aman bagi Penumpang

2026-01-11 14:44:53
Nasib Odong-odong di Muara Angke, Mikrotrans Disebut Lebih Aman bagi Penumpang
JAKARTA, - Kendaraan roda tiga atau odong-odong di Muara Angke, Jakarta Utara, yang selama ini menjadi andalan warga disarankan diganti dengan mikrotrans."Ya, itu harus diadakan jangan pakai odong-odong karena enggak nyaman kan," kata Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno saat diwawancarai Kompas.com, Selasa .Diandalkannya odong-odong oleh warga karena belum ada transportasi umum yang masuk sampai ke dalam Pelabuhan Muara Angke.Baca juga: Nestapa Sopir Odong-odong di Muara Angke, Jadikan Kendaraan sebagai RumahPadahal jarak dari Terminal Muara Angke ke Pelabuhan Kali Adem atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI) cukup jauh kurang lebih sekitar dua kilometer sehingga melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki.Di sisi lain, kawasan Pelabuhan Kali Adem banyak dikunjungi wisatawan yang ingin bepergian ke Pulau Seribu./ SHINTA DWI AYU Odong-odong di Muara Angke, Jakart Utara, yang menjadi andalan warga.Tak heran bila mereka memilih untuk menaiki odong-odong dibandingkan menghabiskan tenaga untuk berjalan kaki ke Pelabuhan Kali Adem.Dengan adanya kebutuhan tersebut, Djoko menyarankan agar diadakannya trayek mikrotrans khusus ke dalam pelabuhan."Kalau bisa ke dalam pelabuhan karena kalau Transjakarta enggak bisa masuk karena jalannya sempit, kalau jalannya besar bisa masuk itu bagus jadi tersimpul," kata dia.Djoko menilai, odong-odong aman digunakan untuk mengangkut penumpang apabila beroperasinya hanya di kawasan wisata saja."Odong-odong kalau cuma buat wisata aja enggak apa-apa tapi kalau untuk mengangkut penumpang di jalan raya jangan lah. Kalau untuk anak-anak sore main mutar-mutar bisa," sambung Djoko.Sebab, jika hanya beroperasi di kawasan wisata, odong-odong tidak harus bersinggungan secara langsung dengan kendaraan yang lebih besar.Baca juga: Odong-odong di Muara Angke, Antara Larangan Regulasi dan Sumber NafkahKemudian, rute di kawasan wisata juga cenderung lebih pendek sehingga aman untuk penumpang.Namun, jika beroperasi di jalan raya, potensi kecelakaan yang terjadi pada odong-odong cenderung lebih besar.Mirisnya lagi, korban kecelakaan odong-odong berpotensi tak mendapatkan santunan karena kendaraan tersebut memang tidak diperuntuhkan untuk mengangkut penumpang dan tidak diizinkan beroperasi di jalan raya.Jadi, ketika kecelakaan terjadi pada odong-odong maka para korban harus menanggung risikonya sendiri karena kendaraan tersebut sudah menyalahi aturan.


(prf/ega)