Cerita dari Sekolah Rakyat di Samarinda: Printer Pinjam, Air Sulit Murid Mandi di Masjid

2026-02-02 12:29:54
Cerita dari Sekolah Rakyat di Samarinda: Printer Pinjam, Air Sulit Murid Mandi di Masjid
SAMARINDA, — Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda sudah berjalan sekitar sebulan lebih. Meski begitu, sekolah ini masih perlu berbagai fasilitas penunjang. Masalah air bersih juga menjadi kendala rutin di sini.Sekolah ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan Timur.Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58, Rabiatul Adawiyah mengatakan, sejak mulai beroperasi sekitar sebulan, banyak tantangan yang harus dihadapi.Di antaranya adalah fasilitas belajar masih terbatas. Begitu pula sarana penunjang lain seperti ruang bermain dan olahraga.Baca juga: Pedagang Ikan di Samarinda Keluhkan Maraknya Uang Palsu, Uang Luntur saat Terkena Air“Halaman bermain anak masih kurang, fasilitas olahraga belum ada. Perpustakaan, UKS, dan musala juga belum tersedia,” kata Rabiatul saat ditemui di Samarinda, Rabu .Untuk menjalankan kegiatan belajar, pihak sekolah memanfaatkan perlengkapan seadanya.Printer dan proyektor yang digunakan masih pinjaman dari sekolah lain.“Sudah satu bulan setengah kami berjalan dengan fasilitas seadanya. Printer dan proyektor kami pinjam, semoga tidak cepat ditarik,” ujarnya.Posisi sekolah ini berada di ujung jaringan. Hal ini membuat aliran air sering terhenti lebih dulu dibanding kawasan lain.“Kalau air mati, di tempat lain masih mengalir. Kami sangat membutuhkan bantuan tandon air supaya bisa menampung air saat mati,” katanya.Tantangan lain juga datang dari kondisi siswa yang beragam.Baca juga: Polisi Ditemukan Tewas Tergantung di Asrama Polresta SamarindaBeberapa anak masih terlalu muda, sementara ada pula yang memiliki masalah kesehatan seperti mag akut.“Salah makan sedikit bisa kambuh. Kadang kami harus membawa mereka ke rumah sakit,” ujarnya.Salah satu siswa, Asdar (17), mengatakan bahwa kegiatan belajar berjalan meski masih banyak kekurangan.“Yang belum ada itu alat tulis, seragam, buku bacaan, sama perpustakaan. Kalau olahraga, kami main bola di lapangan upacara saja,” katanya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Komitmen keberlanjutan yang digaungkan selama 25 tahun tecermin melalui berbagai program, seperti aksi donor darah bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Karangasem, pengembalian botol kosong di toko ritel, penggunaan plastik daur ulang pada kemasan, serta kegiatan rutin bersih-bersih pantai dan pura di wilayah Jasri, Karangasem.Pertumbuhan Sensatia sepanjang 2025 turut diperkuat dengan sejumlah penghargaan dari media nasional serta perluasan jaringan ritel yang kini mencapai lebih dari 40 gerai di Indonesia.Baca juga: Rutinitas Skincare Mikha Tambayong, Contek untuk Wajah Bersinar“Komitmen kami tidak berubah, yaitu menjadi brand yang relevan serta membawa dampak positif bagi lingkungan. Langkah ini memastikan nilai-nilai clean beauty yang kami junjung tetap tecermin dalam setiap produk dan inisiatif kami,” lanjut Michael.Dok. Sensatia Deretan produk Sensatia, milai dari hair and gift set hingga mother and baby. Memasuki 2026, Sensatia akan memprioritaskan pertumbuhan berkelanjutan serta penguatan identitas brand melalui inovasi produk berbahan alami berkualitas tinggi.Setiap inovasi baru akan dikembangkan sesuai standar clean beauty dan tetap menjaga prinsip ramah lingkungan.“Kami melihat 2026 sebagai momentum positif bagi industri kecantikan alami di Indonesia. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami. Kami berharap, tahun mendatang dapat menghadirkan produk perawatan kulit yang mindful dan memberikan manfaat nyata bagi keseharian,” kata Michael.Menutup 2025, Sensatia juga menghadirkan program The Art of Gifting berupa layanan complimentary gift box wrapping dengan minimum pembelanjaan tertentu di seluruh gerai.Baca juga: Skincare Malam, Langkah Penting Perawatan Kulit yang Sering Diabaikan PriaPelanggan dapat menikmati penawaran hemat hingga 25 persen sampai 31 Desember 2025.

| 2026-02-02 12:22