- Planet Uranus dan Neptunus, yang dikenal sebagai raksasa es Tata Surya, masih menjadi planet yang paling minim eksplorasi.Satu-satunya wahana yang pernah mengunjunginya adalah Voyager 2, yang melakukan penerbangan lintas bersejarah.Namun, data yang dikumpulkan wahana ini 40 tahun lalu, justru menimbulkan misteri, terutama terkait sabuk radiasi elektron Uranus yang energinya jauh lebih tinggi dari perkiraan.Selama ini, para ilmuwan kesulitan memahami bagaimana sistem Uranus dapat mendukung begitu banyak radiasi elektron yang terperangkap.Baca juga: Chiron, Objek Es di Antara Saturnus dan Uranus Sedang “Membangun” Cincinnya SendiriDalam studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, para peneliti dari Southwest Research Institute (SwRI) mengajukan hipotesis yang memecahkan Misteri Uranus tersebut: Voyager 2 kemungkinan datang pada saat yang tidak tepat.Dr. Robert C. Allen, fisikawan antariksa dan Ilmuwan Utama di Space Sciences Division SwRI, memimpin penelitian ini.Timnya berhipotesis bahwa observasi Voyager 2 mungkin merupakan hasil dari struktur angin Matahari—sebuah peristiwa transien yang disebut "wilayah interaksi ko-rotasi"—yang kebetulan melewati sistem Uranus saat wahana itu melintas.Sebelumnya, pengamatan Voyager 2 menjadi satu-satunya pengukuran langsung lingkungan radiasi di Uranus, yang menghasilkan karakterisasi bahwa sistem tersebut memiliki sabuk radiasi ion lemah tetapi sabuk radiasi elektron yang sangat intens.Namun, ketika tim menganalisis kembali data tersebut, mereka menemukan petunjuk bahwa observasi wahana itu tidak terjadi selama kondisi angin Matahari normal.Peristiwa transien ini, menurut mereka, menghasilkan gelombang frekuensi tinggi paling kuat yang pernah diamati selama misi Voyager 2.Awalnya, para ilmuwan berpikir gelombang frekuensi tinggi ini akan menyebarkan elektron dan menghilangkannya ke atmosfer Uranus.Namun, sains telah berkembang.Kini diketahui bahwa, dalam keadaan tertentu, gelombang ini juga dapat mengakselerasi elektron dan menambah energi pada sistem planet.Tim SwRI membandingkan observasi Voyager 2 dengan peristiwa serupa yang diamati di Bumi, dan menemukan kemiripan."Ilmu pengetahuan telah berkembang pesat sejak penerbangan lintas Voyager 2. Kami memutuskan untuk mengambil pendekatan komparatif, melihat data Voyager 2 dan membandingkannya dengan pengamatan Bumi yang telah kami lakukan selama beberapa dekade ini," kata Dr. Robert C. Allen dalam siaran pers SwRI.
(prf/ega)
Misteri Uranus Terpecahkan, Sabuk Radiasi Elektron Ekstrem Ternyata Rekaman Badai Angin Matahari Sesaat
2026-01-11 03:49:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:46
| 2026-01-11 03:41
| 2026-01-11 03:27
| 2026-01-11 02:54
| 2026-01-11 01:56










































