Cerita Keluarga 3 Hari Susuri Sungai Mencari Ipda Angga Mufajar, Korban Bencana Sumbar

2026-02-05 13:56:40
Cerita Keluarga 3 Hari Susuri Sungai Mencari Ipda Angga Mufajar, Korban Bencana Sumbar
PEKANBARU, - Ipda Angga Mufajar (36) hingga kini belum ditemukan, pihak keluarga masih terus berupaya untuk mencarinya. Ipda Angga Mufajar merupakan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau.Ia diduga menjadi korban bencana alam banjir dan longsor di Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar).Baca juga: Ipda Angga Mufajar Belum Ditemukan, Korban Banjir Sumbar yang Hilang di Hari Ulang TahunnyaKakak kandung Angga Mufajar, Poppy Rahmadini (40) mengaku selama 3 hari menyusuri Sungai Batang Anai, Padang Panjang."Kami sekeluarga ada 5 orang yang ikut cari Angga. Saya, ibu, istrinya dan saudara. Tiga hari kami menyusuri sungai," ujar Poppy saat diwawancarai Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin .Poppy menyebut, pencarian dilakukan bersama tim Basarnas Padang Panjang dan temannya polisi yang satu angkatan dengan korban.Baca juga: Prabowo ke Korban Banjir di Sumbar: Rumah Rusak Akan Kita BantuMereka melewati medan bekas longsor, yang dipenuhi kayu, tanah dan bebatuan besar."Kami melewati kayu dan batu-batu besar mencari Angga. Areal pencarian  sangat panjang, sampai ke muara Padang," sebut Poppy.Poppy mengaku melihat tim SAR mengevakuasi jenazah korban yang tertimbun longsor.Baca juga: Bantu Penanganan Banjir di Sumbar, SAR Palembang Berangkatkan 15 Personel RescueMenurutnya, personel pencarian mesti ditambah, karena yang ada saat ini di lokasi masih terbatas."Personel dan peralatan masih terbatas, sementara areal pencarian sangat panjang. Mungkin ada sekitar 200 kilometer panjang sungai," katanya. Untuk mengevakuasi satu jenazah membutuhkan sekitar waktu tiga jam."Makanya kami minta tim Polda Riau ditambah untuk mencari Angga," kata Poppy.Poppy tak kuasa menahan tangis mengenang nasib adiknya itu.Dalam video yang dikirimkan Poppy ke Kompas.com, ia memperlihatkan lokasi bekas longsor dan banjir tempat diduga hilangnya sang adik.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-05 11:51