Harimau Sumatera Mati di Lampung, Aktivis Sebut Alami Stres Ekstrem

2026-01-12 03:31:52
Harimau Sumatera Mati di Lampung, Aktivis Sebut Alami Stres Ekstrem
LAMPUNG, - Harimau "Bakas" mengalami stres ekstrem setelah direlokasi dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Lampung.Ketua Forum HarimauKita, Iding Achmad Haidir, mengatakan, dari keterangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung, satwa itu disebut menabrakkan diri ke kandang pada Jumat ."Kami menilai perilaku menabrak kandang bukan tindakan menabrakkan diri, melainkan bentuk reaksi stres ekstrem terhadap gangguan di sekitar," katanya melalui rilis, Rabu .Iding mengatakan, potensi stres dapat meningkat jika terjadi kebisingan dan keramaian manusia di sekitar kandang.Baca juga: Harimau Sumatera yang Diduga Memangsa Warga di Lampung Mati Setelah 12 Hari TertangkapMenurutnya, upaya satwa untuk menghindari stressor adalah berusaha menjauh atau keluar dari kandang, yaitu dengan mendobrak atau menabrak pintu ataupun dinding yang menghalanginya untuk keluar.Semakin besar tenaga yang digunakan untuk melewati penghalang, semakin fatal dampak yang akan dialaminya, bahkan bisa berakibat kematian karena luka traumatis yang serius pada organ-organ vital."Faktor-faktor ini semestinya diantisipasi dalam setiap kegiatan translokasi satwa liar," kata dia.Iding menambahkan, setiap individu harimau yang ditangani adalah aset genetik dan simbol moral perjuangan konservasi bangsa.Kehilangan harimau "Bakas" harus menjadi pelajaran kolektif agar setiap tindakan penyelamatan satwa dilakukan dengan kehati-hatian, keterlibatan ahli, dan rasa tanggung jawab yang tinggi.Baca juga: Kematian Harimau “Bakas” Ungkap Lemahnya Koordinasi Penanganan SatwaKematian seekor harimau liar bukan sekadar kehilangan biologis, tetapi juga cermin dari sejauh mana kita mampu menyeimbangkan keselamatan manusia dengan martabat satwa yang dilindungi.Diberitakan sebelumnya, seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) mati di kandang setelah 12 hari tertangkap di Lampung.Harimau tersebut awalnya diduga sebagai satwa yang telah meresahkan dan memangsa manusia di wilayah Kabupaten Lampung Barat.Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Himawan Sasongko, mengonfirmasi satwa dilindungi itu mati pada Jumat kemarin.


(prf/ega)