DEPOK, - Jalan berlubang di bawah bayang beton flyover Jalan Arif Rahman Hakim, tepat di sekitar Stasiun Depok Baru, menjadi pemandangan harian bagi ribuan orang yang melintas setiap hari.Di jalur sempit itu, pejalan kaki, angkot yang berhenti sembarangan, dan barisan lapak pedagang yang menempel di dinding beton berpadu dalam ruang yang sama menciptakan potret kota yang hidup, tapi juga semrawut.Bagi Wawan (34), pedagang pisang yang sudah delapan tahun berjualan di bawah flyover, kondisi jalan yang rusak bukan lagi keluhan baru, melainkan bagian dari keseharian.“Kalau hujan dikit langsung becek, Mbak. Aspalnya udah nggak rata, bolong-bolong. Kadang air nyiprat ke dagangan saya,” ujar Wawan, sembari menata tandan pisang kepada Kompas.com, Senin .Baca juga: Potret Semrawut di Bawah Flyover Stasiun Depok Baru: Vital tapi TerlupakanWawan memutuskan pindah ke lokasi itu karena dianggap strategis dekat dengan pasar dan stasiun. Kini, strategi itu berbalik menjadi ujian.Genangan air membuat pembeli enggan berhenti, sementara kendaraan sering melintas sembarangan.“Pemerintah pernah datang, katanya mau diperbaiki. Tapi sampai sekarang belum kelihatan. Ya kita cuma bisa berharap, biar dagangan tenang, pembeli nyaman,” kata dia.Di belakang Wawan, tampak angkot berhenti di atas jalan yang retak. Asap knalpot bercampur bau tanah lembab, menambah sesak udara di bawah jembatan layang yang seharusnya menjadi area sirkulasi publik.Sejak area di bawah flyover berubah fungsi menjadi pasar darurat, Surya (40), pedagang sayur, sudah hafal ritme tempat itu.“Kalau pagi-pagi, motor sama angkot rebutan jalan sama kita yang jualan. Kadang sampai kena semprotan air got karena ban lewat lubang,” kata Surya.Lapaknya berdiri di atas terpal biru, bersebelahan dengan pedagang buah dan gorengan. Ia tahu betul area itu dilarang untuk berdagang, tapi kondisi ekonomi tak memberi banyak pilihan.“Pernah kami ngadu ke kelurahan, katanya mau dicek. Tapi ya sampai sekarang begitu-begitu aja. Kalau hujan, kami kasih papan biar nggak becek,” ucap dia.Bagi Surya, tempat itu lebih dari sekadar lokasi berdagang, tapi juga satu-satunya ruang hidup.“Cuma di sini jualan bisa laku. Harapannya cuma satu, pemerintah lihat juga tempat begini. Jangan cuma perhatikan yang di tengah kota aja,” ungkap dia.Bagi Supartono (39), sopir angkot trayek D01, kondisi jalan di kolong flyover bukan sekadar gangguan melainkan “identitas”.“Lubangnya di situ-situ aja tiap tahun. Kalau hujan, air nutup lubang, penumpang bisa kebanting pas mobil lewat,” ujar dia.Kerusakan jalan itu juga berdampak langsung pada jumlah penumpang.“Orang jadi males lewat sini, katanya takut becek dan macet. Padahal ini rute utama dari stasiun ke pasar,” kata dia.Supartono berharap pemerintah tak menunggu keluhan viral dulu baru bertindak.“Kalau diperbaiki dikit aja udah bagus. Kasih penerangan juga, malam-malam gelap banget, bahaya,” harap Supartono.Lian (31), rekan sesama sopir angkot, menambahkan, malam hari adalah waktu paling berisiko.
(prf/ega)
Kolong Flyover Depok Baru: Ruang Hidup yang Terlupakan di Tengah Kota
2026-01-11 03:21:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:03
| 2026-01-11 03:03
| 2026-01-11 02:06
| 2026-01-11 01:50










































