Kisah Neas Wanimbo, Buka Akses Pendidikan untuk Anak Papua Pegunungan

2026-02-03 19:44:31
Kisah Neas Wanimbo, Buka Akses Pendidikan untuk Anak Papua Pegunungan
- Neas Wanimbo percaya pendidikan bisa membuka pintu masa depan.“Saya ingin anak-anak di kampung punya kesempatan belajar seperti anak-anak di kota," kata Neas Wanimbo, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa .Melihat anak-anak di Kampung Huewi, Distrik Tangma, Papua Pegunungan belum bisa membaca dengan lancar, ia mengajak beberapa pemuda lokal membuka kelas literasi sore hari.Peralatan yang digunakan sangat sederhana. Papan tulis kecil, buku-buku sumbangan, dan alat tulis dari donasi.Cara belajarnya disesuaikan dengan apa yang paling dekat dengan kehidupan anak-anak Papua, seperti cerita rakyat, lagu, permainan, dan kegiatan alam.Baca juga: Syarat WNI Diaspora Jadi Dosen di IndonesiaMenurut data BPS tahun 2024, Papua Pegunungan memiliki rata-rata lama sekolah hanya enam tahun dan fasilitas sekolah minim. Banyak anak bahkan tidak berkesempatan belajar secara konsisten di sekolah formal.Kala kuliah di Universitas Tanri Abeng Jakarta, Neas mulai mengajak teman-teman kampus berdonasi, membuat kegiatan pengadaan buku-buku, belajar bersama untuk anak-anak di Papua, dan pulang membawa “kabar baik” bagi kampungnya.Komitmen dan rasa memiliki bersama menjadi fondasinya mendirikan Yayasan Hano Wene Indonesia pada 2021.Nama Hano Wene berarti “kabar baik” dalam bahasa Hubla.Nama itu dia pilih dengan doa bahwa setiap program yang dilakukannya akan menjadi kabar baik bagi anak-anak, keluarga, dan masyarakat di pedalaman Papua.Nilai-nilai yang Hano Wene junjung sejak awal adalah kebaikan, kebersamaan, dan keberanian untuk membawa perubahan dari tempat yang sederhana.“Kami tidak menggantikan guru. Kami berjalan bersama mereka, membantu anak-anak belajar dengan cara mereka sendiri,” ucap Neas.Suatu hari, seorang anak yang pemalu, Yongki memberanikan diri maju untuk membaca keras-keras di depan teman-temannya.“Anak-anak lain langsung tepuk tangan. Saat itu saya tahu bahwa kami tidak hanya mengajar membaca, tetapi menumbuhkan kepercayaan diri,” kenang Neas.Dengan dana terbatas dan perjalanan menuju kampung Huewi yang sering menyulitkan, semangat Neas tidak padam.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-03 18:42