Ngos-ngosan di Stasiun Kampung Bandan: Tak Ada Lift dan Eskalator

2026-01-12 08:24:50
Ngos-ngosan di Stasiun Kampung Bandan: Tak Ada Lift dan Eskalator
JAKARTA, - Tangga tinggi yang menghubungkan peron atas dan bawah Stasiun Kampung Bandan, Jakarta Utara, dikeluhkan pengguna KRL.Di tengah padatnya arus penumpang yang setiap hari berganti antara jalur Mangga Dua, Kota, Tanjung Priok, Angke, hingga Cikarang, fasilitas aksesibilitas yang minim membuat perjalanan di stasiun ini terasa seperti uji napas bagi banyak orang.Dari lansia yang harus berhenti tiap beberapa anak tangga untuk menarik napas, ibu-ibu yang menggendong balita sambil menggigil menahan lelah, hingga pekerja yang memanggul barang besar, semuanya bertemu di tangga yang menjadi satu-satunya jalur mobilitas.Baca juga: Kala Napas Penumpang Terhenti Sejenak Saat Menapaki Tangga Kampung BandanTanpa eskalator, tanpa lift, dan tanpa jalur ramah difabel, keseharian penumpang di Kampung Bandan berubah menjadi pertaruhan kenyamanan bahkan keselamatan.Perjalanan menuju Stasiun Kampung Bandan pada Selasa dimulai dari Jl. Mangga Dua VIII No.16, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara.Dari arah jalan utama Mangga Dua, pengunjung diarahkan masuk ke sebuah gang pemukiman melalui Gapura Mangga Dua.Di bagian atas gapura terpasang papan petunjuk bertuliskan “Stasiun Kampung Bandan” yang mengarahkan pejalan kaki masuk ke Gang Stasiun Kampung Bandan.Gang tersebut lebarnya tak lebih dari dua meter, hanya cukup dilalui motor dan pejalan kaki. Di kiri kanan gang, deretan rumah petak, warung kelontong, dan lapak makanan kecil berdiri rapat satu sama lain.Aktivitas warga cukup ramai. Ada anak-anak yang berlari, ojek yang keluar masuk gang, hingga pedagang sayur yang lewat sambil mendorong gerobak. Dari mulut gapura hingga ke pintu masuk stasiun, jaraknya sekitar 250 meter.Ruang sempit itu menjadi satu-satunya jalan bagi ratusan, bahkan ribuan penumpang yang bergerak dari dan menuju stasiun setiap hari.Di ujung gang yang sempit itu, tampak pintu masuk Stasiun Kampung Bandan.Area depannya sederhana, mirip stasiun kecil lain di jaringan KAI Commuter. Di sana terdapat mesin tap kartu untuk akses masuk, satu petugas yang berjaga di dekat pintu, serta papan petunjuk arah menuju peron.Setelah melewati gate, terdapat deretan kios makanan dan beberapa pedagang kecil yang memanfaatkan keramaian penumpang.Stasiun Kampung Bandan menjadi titik transit bagi beberapa rute penting ke Jakarta Kota, Tanjung Priok, Angke, Duri, hingga Cikarang.Namun, di balik perannya sebagai simpul mobilitas itu, stasiun ini menyimpan persoalan besar yang selalu dikeluhkan pengguna akses naik turun peron yang seluruhnya bergantung pada tangga tinggi tanpa bantuan eskalator atau lift.Baca juga: Perlukah (dan Mungkinkah) KRL 24 Jam?Stasiun Kampung Bandan memiliki dua area, peron atas dan peron bawah. Namun, kedua area tersebut hanya bisa dicapai dengan satu cara—menaiki atau menuruni tangga tinggi dan curam.Untuk menuju peron atas, penumpang harus melewati tangga panjang dan sempit. Di jam-jam kerja, arus orang dari dua arah sering kali bertabrakan.Penumpang yang ingin naik harus berebut ruang dengan mereka yang turun. Banyak penumpang memutuskan berhenti di tengah tangga, bersandar pada pegangan besi untuk sekadar mengatur napas.Minimnya fasilitas aksesibilitas di Stasiun Kampung Bandan berdampak langsung pada pengguna prioritas seperti lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, atau pengguna dengan mobilitas terbatas.Tidak adanya lift atau eskalator membuat semua orang harus menanggung beban fisik yang sama, tanpa pengecualian.Di antara mereka, tampak seorang ibu lansia, Bibah (63), yang harus naik perlahan sambil menggenggam tangan anaknya.Bibah datang dari daerah Mangga Dua, hendak menuju Duri untuk mengunjungi keluarganya.Setiap kali harus menggunakan Kampung Bandan, ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi tangga panjang.“Iya, saya memang sering lewat sini kalau mau ke rumah anak saya. Dari dulu jalurnya begini terus, harus naik-turun tangga tinggi,” ujarnya sambil sesekali menarik napas panjang saat ditemui langsung di Stasiun Kampung Bandan, Selasa .Bibah sudah bertahun-tahun menggunakan Stasiun Kampung Bandan. Tidak banyak perubahan yang ia rasakan dari sisi akses.


(prf/ega)