Penobatan Napoleon Bonaparte: Sejarah Kaisar Pertama Perancis 1804

2026-01-13 06:28:53
Penobatan Napoleon Bonaparte: Sejarah Kaisar Pertama Perancis 1804
- Pada 2 Desember 1804, dunia menyaksikan peristiwa bersejarah yang mengubah lanskap politik Eropa.Napoleon Bonaparte, seorang jenderal brilian berusia 35 tahun, menobatkan dirinya sebagai Kaisar Perancis dalam upacara megah di Katedral Notre-Dame.Penobatan ini bukan sekadar peralihan kekuasaan, melainkan penanda pemutusan simbolis dari semangat revolusi republikan yang sebelumnya membawa Napoleon ke puncak kekuasaan. Untuk pertama kalinya dalam 1.000 tahun, Perancis kembali memiliki seorang kaisar.Baca juga: Sejarah Napoleon Bonaparte dan Harta Kekaisaran yang Kini Tersimpan di Museum LouvrePenobatan Napoleon pada 2 Desember 1804 menandai dimulainya secara resmi Kekaisaran Pertama Perancis. Kekuasaan ini dibangun setelah kudeta 9 November 1799, yang dikenal sebagai kudeta 18 Brumaire.Dalam kudeta tersebut, Napoleon bersama Lucien Bonaparte, Emmanuel-Joseph Sieyès, dan Talleyrand menggulingkan Direktori. Tidak lama kemudian, sistem Konsulat dibentuk dan Napoleon diangkat sebagai Konsul Pertama dengan kekuasaan mendekati diktator selama sepuluh tahun.Konstitusi baru memusatkan kekuasaan di tangan Konsul Pertama, meski tetap menjaga tampilan republik. Napoleon memanfaatkan kekuasaan ini untuk menyelesaikan konflik internal, memulihkan kebebasan beragama, dan mereformasi sistem hukum melalui Kode Napoleon.Pada Agustus 1802, mayoritas warga Perancis menyetujui pengangkatannya sebagai konsul seumur hidup. Lalu pada Mei 1804, Senat memberikan gelar kaisar dan menetapkan garis suksesi keluarga Bonaparte.Baca juga: Sejarah Pertempuran Leipzig 1813: Kekalahan Telak Napoleon yang Mengubah Peta EropaUpacara penobatan yang awalnya direncanakan di Hôtel des Invalides dipindahkan ke Katedral Notre-Dame untuk menampung lebih banyak peserta.Paus Pius VII hadir dalam upacara tersebut, namun menyetujui bahwa Napoleon akan memahkotai dirinya sendiri dan istrinya, Joséphine. Paus menolak mengakui pernikahan sipil mereka dan menuntut keduanya menikah ulang secara Katolik.Acara ini tidak terlepas dari drama keluarga. Dua saudara Napoleon, Lucien dan Jérôme, tidak hadir. Ibu Napoleon, Letizia, memilih tetap berada di Italia bersama Lucien. Sementara itu, saudari-saudari Napoleon berselisih mengenai gelar dan peran mereka dalam upacara.Meski penuh ketegangan, penobatan berlangsung megah. Napoleon menggambarkan momen ini sebagai sumpah untuk menjaga integritas kekaisaran, keamanan properti, kelanggengan institusi, penghormatan hukum, dan kesejahteraan bangsa.Baca juga: Perjalanan Napoleon Bonaparte Naik ke Tampuk Kekuasaan PerancisSebelum menjadi kaisar, Napoleon menjabat sebagai Konsul Pertama dari 1799 hingga 1804. Ia kemudian memerintah sebagai Kaisar Perancis dari 1804 hingga 1814, dan kembali sebentar pada 1815 dalam periode Seratus Hari setelah melarikan diri dari pengasingan di Pulau Elba.Kekalahan dalam Pertempuran Waterloo membuatnya diasingkan ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau terpencil di Samudra Atlantik. Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga meninggal pada 5 Mei 1821 pada usia 51 tahun.Perjalanan Napoleon menjadi pengingat bahwa kekuasaan absolut, meskipun mampu membawa reformasi besar, juga menyimpan risiko ketika ambisi pribadi mengesampingkan kepentingan rakyat. Dari kemegahan Notre-Dame hingga kesunyian Saint Helena, kisah Napoleon tetap menjadi pelajaran abadi tentang kejayaan, kekuasaan, dan kejatuhan manusia.Baca juga: Tempat Napoleon Akhir Menutup MataReferensi: 


(prf/ega)

Berita Lainnya