Menteri LH Temukan 200 Hektar Perkebunan Sawit, Perparah Banjir di Desa Garoga

2026-01-12 16:45:30
Menteri LH Temukan 200 Hektar Perkebunan Sawit, Perparah Banjir di Desa Garoga
MEDAN, - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengeklaim, menemukan ratusan hektar perkebunan kelapa sawit di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga di Desa Garoga, Kecematan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu .Hanif menyebut, DAS tersebut disusuri setelah banjir membawa banyak potongan kayu besar menghantam dan menghilangkan desa Garoga."Saya sudah sampai ke puncak. Memang ada satu entitas perkebunan sawit mungkin bukaannya, taksiran saya, mungkin nanti kita dalami sekitar 200-an hektar," kata Hanif usai penyusuran di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumut, Sabtu .Namun, Hanif mengatakan, belum memeroleh informasi mengenai identitas perusahaan kelapa sawit tersebut."Sampai hari ini saya juga belum dapat datanya dari perusahaan sawit yang ada di Hulu DAS Garoga. Ini yang juga berkontribusi dalam memperparah surface atau aliran permukaan di Garoga," ujar Hanif.Baca juga: Warga Garoga Tetap Ingin Pulang Meski Rumah Disapu Banjir: Ke Mana Lagi Awak Pulang?Berdasarkan pantauan Hanif, sifat tanah di hulu DAS itu memang sangat labil. Kondisi itu diperparah karena pada posisi itu terlihat banyak dinding tebing seperti ada sayatan-sayatan atau longsoran.Kemudian, pada tanggal 24-25 November 2025, tercatat curah hujan di Garoga mendekati 450 milimeter.Menurut Hanif, curah hujan yang sangat tinggi itu kemudian membuat lanskap yang miring dengan tanah yang labil di hulu DAS tidak kuat menahan air."Sehingga dia luruh dan dibendung oleh pohon-pohon yang jatuh menjadi tekanan yang besar sehingga melenyapkan Desa Garoga. Ini analisa saya. Tetapi ahli nanti akan turun segera," ujar Hanif.Baca juga: Ribuan Kayu Gelondongan Terlihat di Desa Garoga Tapanuli Selatan, Wargapun Bertanya-tanyaNamun, Hanif menyebut, pihaknya akan menghitung ulang. Hanya saja, dalam pandangannya, banyaknya reruntuhan itu berkontribusi sangat besar pada hilangnya Desa Garoga."Kita lihat kayunya, kayu yang ada potongan-potongan singsonya. Kalau kita katakan sticking ya. Jadi pohon dipotong-potong kemudian dibiarkan, setelah hujan turun dia jatuh. Itu relatif sedikit, tetap yang paling banyak, saya mohon maaf ini, dengan tidak membenturkan logika teman, tetapi fisiknya demikian," kata Hanif.Diketahui, pemerintah menghentikan sementara operasional untuk tiga perusahaan pada 5 Desember 2025.Ketiganya adalah Agincourt Resources, PTPN III, dan North Sumatera Hydro Energy (NSHE) selaku pengembang PLTA Batang Toru.Sehari kemudian, pada Sabtu, 6 Desember 2025, Kementerian Lingkungan Hidup kembali menghentikan sementara operasional satu perusahaan, namun belum merinci identitas korporasi tersebut.Hingga saat ini, sudah ada empat perusahaan di Tapanuli Selatan yang dihentikan operasionalnya usai bencana banjir bandang.Baca juga: Kayu Dulu, Baru Air, Kesaksian Mencekam Warga Garoga Saat Desa Diratakan Banjir Bandang Tapsel


(prf/ega)