Skor PISA Siswa Indonesia Rendah, Guru di Semarang Inovasi Buku Pop-up

2026-01-11 22:50:52
Skor PISA Siswa Indonesia Rendah, Guru di Semarang Inovasi Buku Pop-up
SEMARANG, - Pagi itu, aktivitas pembelajaran di SDN Rejosari 01 Semarang, Jawa Tengah terasa lebih semarak. Anak-anak tampak antusias melihat buku munculan atau buku pop-up yang dibawa guru kelas 5C, Nurhayati.“Bu, dibuka sekarang, ya?” kata seorang siswi bernama Naila.Begitu halaman pertama pop-up dibuka, Naila langsung terperangah. Sebuah tumpeng besar dari buah-buahan muncul berdiri, dikelilingi figur kera yang tersusun bertingkat seakan bergerak.Di baliknya, tampak ilustrasi jembatan menuju Goa Kreo dan aliran sungai yang digambar berlapis. Elemen gambar itu terangkat ketika halaman ditarik, membuat sisipan visual tampak tiga dimensi.Baca juga: Siswa Terlibat Judol dan Pinjol, Pemerintah Diminta Perkuat Pendidikan Karakter dan Literasi DigitalBuku pop-up karya guru binaan Tanoto Foundation itu berjudul Sesaji Rewanda, Hadiah untuk Kera Goa Kreo, mengangkat tradisi memberi makan kera liar di objek wisata Goa Kreo, Semarang. Warna-warna cerah dan struktur buku bergambar yang rapi membuat anak-anak seperti diajak “masuk” ke dalam ceritanya.“Kayak beneran masuk ke ceritanya,” ujar Naila kagum.Di sampingnya, Arkadia ikut mengangguk setuju. Baginya, buku pop-up membuat pelajaran lebih mudah dipahami. Ia jadi lebih bersemangat mengetahui tradisi Sesaji Rewanda.Dok. Nurhayati Siswa-siswi kelas 5 C SDN Rejosari 01 Semarang, Jawa Tengah menyimak buku pop-up tentang kuliner di Semarang.Keseruan pembelajaran dengan buku pop-up ini tak lepas dari kegelisahan yang dialami Nurhayati dan sejumlah guru lainnya.Kepada Kompas.com, ia mengaku kerap menemukan murid yang mampu membaca cepat, namun belum memahami isi bacaan secara utuh. Fenomena viral siswa yang kesulitan menjawab pertanyaan sederhana menurutnya bukan kasus tunggal.“Memang sekarang banyak miscued (salah kaprah) dalam proses belajar. Kalau dulu, anak-anak dituntut bisa menghafal dan menjawab cepat. Sekarang, mereka diarahkan untuk berpikir kreatif. Tapi di situ kadang muncul celah, ada hal-hal dasar yang terlewat. Pondasinya memang belum kuat,” ujar Nurhayati.Keresahan itu pula yang akhirnya mendorong Nurhayati dan rekan-rekan guru di Semarang mengembangkan media belajar yang lebih menarik dan kontekstual, salah satunya lewat pop-up book hasil kolaborasi dengan Tanoto Foundation.Baca juga: Jagat Literasi Kompas.com: Upaya Tingkatkan Literasi hingga Pelosok NegeriData Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menempatkan Indonesia di peringkat 69 dari 81 negara. Angka itu menunjukkan kemampuan dasar membaca dan berhitung masih memerlukan perhatian serius.Hasil Asesmen Nasional Kemendikbud bahkan menyebutkan dua dari tiga anak Indonesia belum mencapai kompetensi numerasi minimum. Sementara itu, sepertiga anak belum mampu memahami bacaan secara utuh.Statistik ini kerap terlihat dalam kenyataan sehari-hari, termasuk dalam video-video viral siswa yang kesulitan menjawab pertanyaan sederhana seperti “Apa ibu kota Jawa Tengah?” atau “Apa singkatan BJ dalam BJ Habibie?”World Bank dalam kajian Foundational Learning menyebut literasi dan numerasi dasar adalah fondasi seluruh proses belajar. Tanpa kemampuan memahami bacaan dan konsep numerik dasar sejak dini, anak akan kesulitan mengikuti mata pelajaran lain.


(prf/ega)