Wall Street Loyo di Awal Pekan, Investor Bersikap Hati-hati

2026-01-12 05:29:39
Wall Street Loyo di Awal Pekan, Investor Bersikap Hati-hati
NEW YORK, - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan awal pekan, Senin . Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil menantikan rilis serangkaian data ekonomi penting pada akhir pekan, sekaligus mencermati dinamika pencalonan pimpinan Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi mempengaruhi arah suku bunga.Mengutip Reuters, Selasa , indeks Dow Jones Industrial Average turun 41,49 poin atau 0,09 persen ke level 48.416,56. Indeks S&P 500 melemah 10,90 poin atau 0,16 persen ke posisi 6.816,51. Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam dengan penurunan 137,76 poin atau 0,59 persen ke level 23.057,41.Fokus utama investor pekan ini tertuju pada rilis data penggajian non-pertanian AS untuk periode Oktober dan November. Data tersebut akan dirilis bersamaan dengan laporan penjualan ritel, aktivitas bisnis, serta inflasi pada akhir pekan. Khusus data ketenagakerjaan Oktober, publikasinya sempat tertunda akibat penutupan pemerintahan pada awal kuartal ini.“Pasar saat ini sedang kesulitan menentukan pemimpin, karena tidak ingin menaruh semua telur dalam satu keranjang AI dan belum memiliki banyak data,” ujar kepala investasi di BMO Family Office Carol Schleif.Baca juga: Arah Wall Street di Ujung Tahun Bergantung pada Data Tenaga Kerja dan InflasiMenurut Schleif, pelaku pasar cenderung menahan diri menjelang rilis data ketenagakerjaan, sembari menunggu kepastian apakah data tersebut membuka ruang bagi penurunan suku bunga lanjutan.“Orang-orang akan sedikit menahan napas sebelum angka ketenagakerjaan minggu ini dan apakah angka tersebut mendukung penurunan suku bunga lebih lanjut atau tidak,” paparnya. Tekanan di Wall Street sebenarnya sudah terasa sejak akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat, indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat penurunan harian terdalam dalam lebih dari tiga pekan, dipicu oleh kekhawatiran terhadap inflasi serta meningkatnya investasi di sektor kecerdasan buatan yang dinilai banyak bergantung pada pembiayaan berbasis utang.Di sisi lain, investor juga menilai laporan mengenai pencalonan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, sebagai kandidat ketua The Fed. Baca juga: Wall Street Variatif, Kebijakan The Fed Picu Rotasi di Pasar SahamLaporan tersebut menyebutkan bahwa pencalonan Hassett menghadapi penolakan dari sejumlah pihak yang dekat dengan Presiden AS Donald Trump, menambah ketidakpastian menjelang berakhirnya masa jabatan Jerome Powell pada Mei mendatang.Spekulasi mengenai figur ketua The Fed berikutnya kian menguat, seiring ekspektasi pasar terhadap sosok yang lebih cenderung dovish. Harapan tersebut turut mendorong taruhan pemangkasan suku bunga pada tahun depan.Pada Senin, Presiden Federal Reserve New York menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga pekan lalu telah menempatkan bank sentral pada posisi yang cukup baik. Sementara itu, salah satu gubernur The Fed menilai inflasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan dinamika permintaan dan penawaran yang sebenarnya.Dari sisi sektoral, delapan dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 mencatat penguatan. Sektor kesehatan memimpin kenaikan dengan lonjakan 1,3 persen. Sebaliknya, sektor teknologi informasi turun 1 persen dan menjadi penekan utama indeks, terutama akibat anjloknya saham ServiceNow sebesar 11,5 persen. Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebut perusahaan tersebut tengah dalam pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi perusahaan rintisan keamanan siber, Armis.Di tingkat emiten, saham Tesla menguat 3,5 persen setelah CEO Elon Musk mengungkapkan bahwa perusahaan tengah menguji layanan taksi robot tanpa monitor keselamatan di kursi penumpang depan. Sebaliknya, saham iRobot ambles 72,7 persen setelah produsen penyedot debu Roomba itu mengajukan perlindungan kebangkrutan.Baca juga: Trump Ungkap Dua Nama Calon Ketua The Fed, Soroti Arah Suku Bunga


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-12 04:41