- Menjadi ibu jarang tentang satu perasaan saja. Ia adalah tumpukan emosi yang datang bersamaan.Ada hari-hari ketika kita menggendong bayi yang hampir tertidur, menatap wajah kecilnya, lalu hati dipenuhi rasa takjub. Namun di saat yang sama, ada sedih yang ikut menyelinap, perasaan yang sulit dijelaskan, tapi nyata. Di hari lain, seorang ibu bisa merayakan satu tonggak baru perkembangan si kecil, sambil diam-diam merindukan masa bayi yang baru saja lewat. Kita bisa merasa begitu bersyukur atas keluarga yang dimiliki, sekaligus berduka atas kehidupan masa lalu yang meninggalkan luka batin yang tak serta merta hilang karena punya status baru sebagai ibu.Menjalani keduanya bukan tanda kelemahan. Justru di sanalah keterampilan emosional seorang ibu terasah.Baca juga: Rasa Bersalah Ibu pada Anak, Kapan Masih Wajar dan Kapan Perlu Diwaspadai?Sering kali, para ibu merasa harus memilih satu perasaan agar terasa lebih terkendali: bahagia atau sedih. Padahal kehidupan nyata hampir tak pernah sesederhana itu. Hidup adalah campuran kegembiraan dan kehilangan, dan itu tidak apa-apa. Cinta membuat kita peka terhadap apa yang bisa hilang. Pertumbuhan selalu menuntut pelepasan dari fase yang tak akan kembali. Kegembiraan dan kesedihan berjalan beriringan karena kita begitu peduli.Ketika kita bisa mengakui hal ini, kita berhenti menghakimi diri sendiri karena “terlalu sensitif” atau “terlalu emosional”. Kita mulai mendengarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh perasaan-perasaan itu. Baca juga: 50 Ucapan Selamat Hari Ibu yang Tulus dan Hangat, Cocok Jadi CaptionDi balik rutinitas, kesedihan dan kegembiraan muncul dalam bentuk-bentuk kecil yang sering luput disadari, misalnya saat ibu melambaikan tangan penuh semangat saat mengantar anak ke preschool, lalu merindukan berat tubuhnya yang biasa menempel di dada. Atau tentang bagaimana kita mencintai pekerjaan, tetapi dada terasa nyeri karena tak sempat sampai di rumah untuk mengantar anak tidur.Semua ini bukan tanda kurang bersyukur. Ini tanda bahwa kita manusia.Dok. Freepik/Lifestylememory Ilustrasi ibu dan anak.American College of Obstetricians and Gynecologists pun merekomendasikan skrining rutin depresi dan kecemasan selama masa kehamilan dan setelah melahirkan, agar ibu bisa mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat sejak dini.Saat hari terasa terlalu penuh dan kita bingung memaknainya, kita butuh langkah-langkah yang realistis. Cobalah empat hal sederhana ini:Baca juga: Cerita Ibu yang Kembali Bekerja Usai Jeda Karir, Ini yang Dipersiapkan- Sebutkan dengan jujur. Katakan pelan pada diri sendiri, “Aku senang tadi kita membaca dongeng bersama, dan aku sedih karena kamu tumbuh begitu cepat.”- Rasakan di tubuh. Perhatikan di mana emosi itu berdiam, apakah di dada, rahang, bahu, atau perut. Berikan sentuhan hangat di sana.- Pilih satu tindakan kecil. Mengirim pesan ke suami, menyalakan lilin, keluar sebentar menghirup udara, minum air, atau akhirnya membuat janji yang selama ini tertunda.
(prf/ega)
Merasa Sedih Sekaligus Bahagia, Kompleksnya Perasaan Seorang Ibu
2026-01-12 06:20:32
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:39
| 2026-01-12 05:27
| 2026-01-12 05:09
| 2026-01-12 04:44
| 2026-01-12 04:29










































